Kamis, 29 September 2016

Jangan Remehkan Batuk dan Pilek Anak

ENDAH NURUL: Pada tahun 2013 Kabupaten Tuban menempati posisi enam  untuk kematian bayi dan ibu se Jawa Timur.
Sekretaris Dinas Kesehatan, Endah Nurul K

seputartuban.com – Cuaca yang kurang bersahabat belakangan ini mendatangkan penyakit batuk dan pilek pada anak-anak. Sebagai orang tuatidak dapat berdiam diri terhadap ancaman kesehatan buah hati.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tuban, Endah Nurul K, menyampaikan, batuk pilek yang dibiarkan akan berefek pada penyakit lainnya. Diantaranya demam, batuk berdahak dan hidung tersumbat. Dengan kondisi tersebut, tidur anak pun jadi terganggu. “Sebab apabila sudah dalam kondisi itu pemulihan anak akan lebih lama,” kemarin.

Cara penanganan awal untuk kondisi itu ialah para orangtua memberikan minum air hangat. Agar tarikan napas anak tidak terganggu, dan proses penyembuhan selanjutnya yaitu istirahat yang cukup bisa berhasil.

Endah menjelaskan sebelum anak istirahat demi memulihkan kesehatannya, buatlah lebih dulu lingkungan yang sehat untuk anak. “Buatlah kondisi anak tetap hangat setiap waktu. Kita dapat membuat suhu di kamar sesuai dengan kebutuhannya serta kalau perlu menyiapkan selimut agar pemulihannya lebih cepat,” jelasnya.

Selain itu, perhatikan pula saat anak-anak saat konsumsi makanan. Jagalah selalu kesehatan makanan dan kebersihan lingkungannya untuk mencegah virus atau bakteri berbahaya.

“Memperhatikan makanan yang dimakan, saat anak berangsur membaik dari batuk-pilek sangat penting. Sebab kalau dibiarkan. Tidak sembuh malah bisa buruk lagi keadaannya. Oleh karena itu, hindari makanan yang kebersihanya belum terjamin,” imbaunya.

Para orangtua juga harus mengajak anak untuk hidup bersih dan sehat. Seperti mencuci tangan sebelum makan atau tidur, makan tepat waktu dengan makanan yang layak konsumsi dan bergizi, istirahat cukup.

Hingga kebersihan dan kesehatan lingkungan juga perlu diperhatikan. Hal ini sebagai bentuk pencegahan anak dari ancaman gangguan kesehatannya. “Mencegah lebih baik daripada mengobati,” pungkasnya.  

Penulis : Usul Pujiono E

Inilah Dampak Bermain Pokemon Go Bagi Psikologi dan Kesehatan

seputartuban.com – Bermain game Pokemon Go akan berdampak terhadap psikologi bagi pemainya. Dampak buruk maupun baik secara langsung maupun tidak langsung akan dialami oleh para gamer Pokemon.
Pokemon Go 
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban, Saiful Hadi, mengatakan menurut sejumlah pakar psikolog dan kesehatan menyampaikan banyak manfaat untuk kesehatan bagi para pemain game baru tersebut. “Menurut beberapa psikolog, Pokomen Go dapat membantu kita untuk mengurangi kecemasan hingga depresi. Termasuk juga bisa mendorong kita untuk lebih aktif secara fisik, membuat para pemainnya secara tidak langsung sedang olahraga,” katanya.

Bermain Pokemon Go juga dapat untuk pencegahan obesitas. Berbeda dengan game lainnya, dimana pemainnya bisa berjam-jam duduk dan kurang gerak. “Kurang gerak ini bisa meningkatkan risiko obesitas,” jelasnya.

Dia juga menjelaskan bahwa sisi negatif dari bermain game itu juga banyak. Diantaranya, para pemain yang bertemu satu sama lain di dunia nyata, seperti di dekat sekolah, dan tempat lainnya. Namun mereka pada kenyataannya saling menatap layar handphone mereka masing masing. Atau dapat membuat para pemain game tersebut berkurang sikap sosialisasinya.

Juga sangat berbahaya saat sedang mengejar karakter Pokemon di ruangan terbuka. Cedera dan kecelakaan terus mengintai pemain termasuk orang orang disekitarnya, apa lagi saat menyeberang jalan, hingga menabrak benda di depannya ketika berjalan. “Yang paling berbahaya itu saat bermain di jalan raya,” tegasnya.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini juga mengingatkan para pemain Pokemon Go agar tidak bermain berlebihan. Karena menatap ponsel terlalu lama juga bisa menyebabkan nyeri otot dan ketegangan leher.

Penulis : Usul Pujiono E

Obati Impotensi dan Meningkatkan Sperma, Minum Saja Legen

seputartuban.com – Banyak hal yang dikenal dari Kabupaten Tuban, salah satunya adalah penghasil minuman Legen. Yakni hasil penyadapan getah pohon bogor yang tersebar disejumlah wilayah pinggiran kota. Ternyata minuman khas itu memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik untuk kesehatan.
Minuman Legen Yang Segar dan Menyehatkan

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tuban, Saiful Hadi, menyampaikan air legen mengandung cairan isotonis yang sanggup menggantikan keluarnya cairan tubuh melalui keringat. Sehingga legen yang manis tersebut mampu memulihkan dehidrasi tubuh saat aktivitas berat.
“Selain itu menurut para ahli gizi dan pangan, Air Legen mampu memperbaiki fungsi ginjal, mengatasi gejala impotensi dan meningkatkan produksi sperma,” kata pria lulusan Unair fakultas kedokteran tersebut, Selasa (20/9/2016).

Dia melanjutkan, bahwa legen dipercaya dapat menjaga kesehatan fungsi ginjal. Bahkan ada beberapa jenis Legen yang bisa mengobati penyakit impotensi, walaupun tergantung dari kualitas pohonnya. “Jenis legen di Tuban ini mampu mencegah terjadinya penyakit impotensi,” lanjut Saiful.

Namun air legen tersebut tidak tahan lama karena dalam hitungan beberapa jam saja bisa mengalami proses fermentasi akibat aktivitas mikroba tertentu. Setelah lebih dari dua hari air legen akan mengandung alkohol dan menjadi sangat memabukkan. “Paling lama bertahan sampai dua hari, itupun dengan proses penyimpanan yang tepat dan baik, selebihnya akan berubah jadi memabukkan,” jelasnya.

Dia juga menghimbau kepada masyarakat agar berhati-hati dalam memilih atau meminum air legen. Pasalnya banyak juga penjual air legen yang telah mencampurnya dengan bahan lain, bukan air nira murni. Banyak legen dijual dengan ditaruh di wadah bambu, atau botol bekas. Sehingga perlu dimasak atau dihangatkan dahulu agar kuman mati. “Perlu cermat dalam mengonsumsi, teliti kebersihan pedagangnya dan kemurnian air legennya,” himbaunya.

Bagi ibu hamil, dianjurkan tidak minum air legen secara berlebihan atau maksimal sehari tiga gelas. Karena mengonsumsi air legen dalam jumlah yang banyak berdampak buruk pada janin bayi. “Sebenarnya juga menyehatkan namun jika berlebihan punya dampak buruk pada janin,” pungkasnya.

Penulis : Usul Pujiono E

Rabu, 21 Oktober 2015

Atheisme Ludwig Feuerbach

Feuerbach adalah orang yang pertama kali memberikan landasan rasional ilmiah terhadap atheisme. Dia juga adalah salah satu pendukung filsafat dialektis Hegelian. Alih-alih mendukung sepenuhnya konsep hegelian, hal yang menurutnya bertentangan antara dirinya dengan konsep Hegel adalah tentang sesuatu yang nyata dan rasional. Bagi Feuerbach, manusia adalah nyata dan rasional, sedangkan roh semesta (yang dinyatakan oleh Hegel dan diasosiasikan dengan Tuhan/Allah) adalah sesuatu yang tidak nyata.
Bagi Feuerbach, agama adalah proyeksi manusia atas keterasingan dirinya. Agama menjadi tempat bagi manusia untuk mengasingkan dirinya dari kehidupannya. Sebagai proyeksi, agama tak lain dari sesuatu yang diberikan penghargaan positif terhadap dirinya. Segala konsep tentang Tuhan, Malaikat, Surga, dan Neraka yang ada dalam agama tak lain daripada hasil proyeksi manusia itu sendiri. Dengan kata lain, manusia yang mengkonsepkan hal-hal itu. Manusia yang menciptakan Tuhan, dan bukan Tuhan yang menciptakan manusia.
Agama berdampak positif bagi manusia. Segala sesuatu yang Maha, misalnya Adil, Baik, Penyayang, Pengampun, dll yang ada dalam Tuhan Agama, tidak lain daripada proyeksi manusia itu sendiri. Hal itu sebenarnya telah ada dalam eksistensi manusia. Bukannya menjadikan sesuatu yang Maha itu menjadi milik manusia, manusia justru terjebak dalam pemujaan dan penyembahan kepada agama dan Tuhan yang sebetulnya telah berada dalam dirinya dan menjadi miliknya. Oleh karena itu, manusia harus mengambil kembali ke-Maha-an itu kedalam dirinya. Agama dan Tuhan bukan lagi merupakan sesuatu yang menjadi pusat bagi manusia, tetapi justru manusialah pusat dari segalanya.

Atheisme Sigmund Freud

Sigmund Freud adalah seorang psikiater yang menciptkan dan mengembangkan metode Psikoanalisis. Suatu metode/teori yang kemudian menjadi salah satu aliran besar dalam psikologi. Freud mengikuti alur berpikir Feuerbach dengan filsafat reduksionisme-nya bahwa agama “tak lain daripada…”
Buku karya Freud yang menyatakan atheismenya adalah Totem and Taboo (1913) dan Moses and Monotheism (1938). Menurut Freud, ritual-ritual keagamaan mempunyai kemiripan dengan ritual yang ada dalam gangguan obsesif-kompulsif. Obsesif-kompulsif adalah suatu gangguan psikologi (psychological disorder) dimana seseorang tidak mampu menahan keinginannya untuk melakukan suatu gerakan/aktivitas berulang-ulang, misalnya mencuci tangan berkali-kali, dll. Freud juga mengatakan “neurosis as an individual religion, religion as a universal obsessional neurosis”. Suatu pernyataan yang jelas mengaitkan antara agama dan neurosis.
Dilain pihak, Freud juga mengatakan bahwa agama tak lain daripada sublimasi insting-insting seksual. Teori Psikoanalisis Freud dibangun diatas satu konsep yang disebut Psikoseksual, bahwa dorongan-dorongan seksual (sexual drive/libido) adalah dorongan yang terutama dalam diri manusia yang membuat manusia itu bisa bertahan hidup. Sedangkan sublimasi adalah salah satu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang dibangun manusia untuk menyeimbangkan egonya dari dorongan-dorongan yang berasal dari ketidaksadaran. Insting-insting seksual manusia harus diberi bentuk lain agar dapat diterima secara sosial, dan semuanya itu ada dan tampak dalam agama. Agama adalah sublimasi dari insting-insting seksual manusia agar dapat diterima oleh masyarakat.

Sabtu, 06 Juni 2015

Prolog Tentang Falsafah Jawa

http://scontent.cdninstagram.com/hphotos-xaf1/t51.2885-15/e15/11018517_1613253775577702_1066901960_n.jpgFalsafah Jawa adalah ajaran hidup yang umum dipakai atau berlaku di masyarakat Jawa, Indonesia.[1][2]
Falsafah hidup Jawa menekankan keharmonisan, keselarasan pada setiap dimensi kehidupan, salah satunya dengan alam. Dalam buku Etika Jawa, Frans Magnis Suseno menjelaskan bahwa orang Jawa tidak mengenal baik dan jahat, melainkan orang yang bertindak karena ketidaktahuan.[1]

Falsafah Hidup Jawa terbagi menjadi 3 macam warna Falsafah.
1. Falsafah Hidup Majapahit, terlihat pada nilai-nilai moral dan kehidupan yang diterapkan oleh Jawa Ketimuran. nilai-nilai ini terlihat pada sistem politik yang dipakai oleh kerajaan Majapahit atau Singosari. dengan sikap yang lebih terbuka, ekspansionaris dll. Falsafah ini berawal dari pengaruh teologi Hindu, etos ekspansionaris (Ken Arok, Gajah Mada), etos keterbukaan dan kenaturalan sikap (Pemberontakan-pemberontakan dan praktek perebutan kekuasaan oleh Ken Arok) dan hingga kini masih mempengaruhi etika keseharian masyarakat. Saat Majapahit memasuki era kemaharajaan Thalasokrasi saat pemerintahan Gajah Mada, beberapa negara bagian di luar negeri juga termasuk dalam lingkaran pengaruh Majapahit, sebagai hasilnya, konsep teritorial yang lebih besar pun terbentuk:
Negara Agung, atau Negara Utama, inti kerajaan. 
Mancanegara, area yang melingkupi Negara Agung. Area ini secara langsung dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa, dan wajib membayar upeti tahunan. Akan tetapi, area-area tersebut biasanya memiliki penguasa atau raja pribumi, yang kemungkinan membentuk persekutuan atau menikah dengan keluarga kerajaan Majapahit. Wilayah Mancanegara termasuk di dalamnya seluruh daerah Pulau Jawa lainnya, Madura, Bali, dan juga Dharmasraya, Pagaruyung, Lampung dan Palembang di Sumatra. 
Nusantara, adalah area yang tidak mencerminkan kebudayaan Jawa, tetapi termasuk ke dalam koloni dan mereka harus membayar upeti tahunan. Mereka menikmati otonomi yang cukup luas dan kebebasan internal. Termasuk dalam area ini adalah kerajaan kecil dan koloni di Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Ketiga kategori itu masuk ke dalam lingkaran pengaruh Kerajaan Majapahit. Akan tetapi Majapahit juga mengenal lingkup keempat yang didefinisikan sebagai hubungan diplomatik luar negeri:
Mitreka Satata, yang secara harafiah berarti "mitra dengan tatanan (aturan) yang sama". Hal itu menunjukkan negara independen luar negeri yang dianggap setara oleh Majapahit, bukan sebagai bawahan dalam kekuatan Majapahit.
2. Falsafah Hidup Mataram, terlihat pada nilai-nilai moral dan kehidupan yang diterapkan oleh Jawa mataraman (Jogja, Solo). Nilai-nilai ini terlihat pada sistem politik yang dipake oleh kerajaan mataram (Kesultanan Hamengkubowono, Kesunanan Pakubuwono). dengan sikap yang lebih tertutup, adap asor, halus dll. Falsafah ini berawal dari pengaruh teologi Budha. Etika Mataram menekankan sikap hormat terhadap apa saja karena segala yang ada di dunia adalah percikan zat ilahi.[3] Sikap hormat semacam ini melampaui sikap hormat yang didasarkan pada hirarki jabatan dalam institusi-insitusi.[3] Oleh karena itu, penghormatan kepada seorang raja pun sesungguhnya didasarkan pada keyakinan bahwa seorang raja merupakan wakil Tuhan untuk melangsungkan tatanan dunia sesuai kehendak ilahi, dan apabila seorang raja gagal melaksanakan mandat menyejahterakan rakyat karena lebih senang memenuhi nafsu-nafsu pribadi, maka ia akan kehilangan legitimasi kekuasaan dari rakyat.[3] 
3. Falsafah Hidup (Indonesia yang di Jawakan), Ini sangat terlihat pada nuansa sosial politik dan simbol-simbol kenegaraan saat ini. Dari 2 falsafah hidup diatas kiranya meruncing atau terkristral menjadi falsafah hidup yang kita pakai saat ini, yaitu falsafah Pancasila. Dengan masuknya kebudayaan India ke Jawa melalui penyebaran agama Hindu dan Buddha, maka ajaran Pancasyila pun masuk kedalam kepustakaan Jawa, terutama pada masa Kerajaan Majapahit dibawah kekuasaan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Pada masa itu istilah Pancasila dapat ditemukan dalam buku Negarakertagama karya Empu Prapanca dan buku Sutasoma karya Empu Tantular. Dalam buku Negarakertagama terdapat ketentuan bagi para raja yang berbunyi “Yatnaggegwani Pancasyiila kertasangkarbhisekaka krama” yang artinya “Raja menjalankan dengan setia kelima pantangan begitu pula upacara-upacara ibadat dan penobatan”.
Nilai-nilai Pancasila secara intrinsik bersifat filosofis, dan di dalam kehidupan masyarakat indonesia nilai Pancasila secara praktis merupakan filsafat hidup (pandangan hidup). nilai dan fungsi filsafat pancasila telah ada jauh sebelum indonesia merdeka. hal ini dibuktikan dengan sejarah majapahit (1293). Pada waktu itu Hindu dan Budha hidup berdampingan dengan damai dalam satu kerajaan. 
Empu tantular yang mengarang buku “sutasoma” yang di dalamnya memuat seloka yang berbunyi : “Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma Mangrua”, artinya walaupun berbeda namun satu jua adanya, sebab ada tidak agama yang memiliki Tuhan yang berbeda. Hal ini menunjukkan adanya realitas kehidupan agama pada saat itu, yaitu agama Hindu dan Budha. Bahkan salah satu kerajaan yang menjadi kekuasaannya yaitu pasai jutru telah memeluk agama islam.
Dalam kehidupan bangsa indonesia diakui bahwa nilai Pancasila adalah pandangan hidup (filsafat hidup) yang berkembang dalam sosio-budaya Indonesia. Nilai Pancasila dianggap sebagai nilai dasar dan puncak (sari-sari) budaya bangsa, karenanya nilai ini diyakini sebagai jiwa dan kepribadian bangsa.

Falsafah hidup Jawa tertuang dalam berbagai bentuk karya peninggalan orang Jawa seperti epos Mahabarata, Ramayana, atau karya-karya mitologis lainnya.[4] Selain itu bebeapa bentuk karya lain yang merupakan sumber ajaran etika Jawa berupa tembang, cerita rakyat, peribahasa, slogan-slogan tertentu hingga petuah-petuah sederhana yang sering diucapkan masyarakat dalam hidup sehari-hari.[3][1] Selain itu, sumber etika yang lazim didapati dalam hidup keseharian dapat digali dari ritus-ritus slametan yang sarat dengan simbol-simbol penuh makna sebagai panduan hidup.[5]

Terdapat dua tradisi mitologi wayang terbesar yang hidup dalam masyarakat Jawa, yaitu epos Mahabarata dan Ramayana.[4] I Gede Samba, seorang penafsir cerita Mahabarata dan Ramayana mengatakan bahwa kedua epos tersebut harus dilihat sebagai mitologis, bukan kisah sejarah.[4] Narasi-narasi kisah, karakter setiap tokoh dalam epos Mahabarata dan Ramayana, termasuk perang-perang yang ada dalamnya harus dilihat sebagai kisah yang terjadi dalam setiap manusia, dalam diri manusia, bukan kisah antar-individu.[4] Setiap peristiwa, perang misalnya, adalah perang yang pertama-tama terjadi dalam diri seseorang, bukan perang antar-manusia.[4] Perang antara Kurawa dan Pandawa misalnya, adalah perang antara sifat buruk dan sifat baik yang ada dalam diri seseorang, sehingga perang yang paling pantas dilakukan adalah perang terhadap watak buruk dalam diri sendiri, bukan memerangi pihak (orang) lain yang perlu dimusnahkan.[4] Etika Jawa menghindari peperangan antar-pribadi, antar-kelompok, karena manusia harus hidup dalam harmoni.[4] Jika keharmonisan mulai hilang dari masyarakat, maka pertama-tama manusia harus menilik ke dalam diri tentang apa yang salah dalam dirinya.[4]

Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan : Sangkan Paraning Dumadhi (lit. "Dari mana datang dan kembalinya hamba tuhan") dan membentuk insan se-iya se-kata dengan tuhannya : Manunggaling Kawula lan Gusthi (lit. "Bersatunya Hamba dan Tuhan"). Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut:

  1. Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi)
  2. Mamayu Hayuning Kaluwarga (sebagai rahmat bagi keluarga)
  3. Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia)
  4. Mamayu Hayuning Bhuwana (sebagai rahmat bagi alam semesta)
Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Kejawen hakikatnya adalah suatu filsafat dimana keberadaanya ada sejak orang Jawa (Bahasa Jawa: Wong Jawa, Krama: Tiyang Jawi) itu ada. Berbeda dengan kaum abangan kaum kejawen relatif taat dengan agamanya, dengan menjauhi larangan agamanya dan melaksanakan perintah agamanya namun tetap menjaga jatidirinya sebagai orang pribumi, karena ajaran filsafat kejawen memang mendorong untuk taat terhadap tuhannya. jadi tidak mengherankan jika ada banyak aliran filsafat kejawen menurut agamanya yang dianut seperti : Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Kristen Kejawen, Budha Kejawen, Kejawen Kapitayan (Kepercayaan) dengan tetap melaksanakan adat dan budayanya yang tidak bertentangan dengan agamanya. 

Referensi
  1. ^ a b c d e f (Indonesia)Frans Magnis Suseno., Etika Jawa: Sebuah analisa falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa, Jakarta: Penerbit PT Gramedia, 1984
  2. ^ a b c (Indonesia)Wiwien Widyawati, Etika Jawa: Menggali Kebijaksanaan dan Keutamaan demi Ketentraman Hidup Lahir Batin, Yogyakarta: Shaida, 2012
  3. ^ a b c d e f g h i j k l (Indonesia)Frans Magnis Suseno dan S. Reksosusilo., Etika Jawa dalam Tantangan. Yogyakarta: Kanisius, 1983.
  4. ^ a b c d e f g h (Indonesia)I Gede Samba., Merajut Budaya Bangsa: Tinjauan Filsafati cerita Mahabharata dan Ramayana. Bandung: Yayasan Dajan Rurung Indonesia, 2013
  5. ^ a b c d e f g (Indonesia) Ignas G. Saksono dan Djoko Dwiyanto., Terbelahnya Kepribadian Orang Jawa, Yogyakarta: Keluarga Besar Marhaenis DIY, 2011
 

Jumat, 05 Juni 2015

Sabda Siti Djenar 001

https://alfiananda.files.wordpress.com/2010/02/syekh1.jpgSiti Djenar keluar dari kelas filsafatnya yang beku setelah sekian lama berdiam diri lalu berseru lantang di tengah-tengah kerumunan mahasiswa disebuah kampus bak seorang nabi :

"Dan apa yang kalian sebut sebagai dunia, yang telah ber abad-abad telah dibangun oleh nenek moyang kalian serta kalian, seharusnya tanpa ada rasa takut untuk mengakuinya dengan segala cinta nenek moyang kalian dan cinta kalian, bukankah sudah kalian sadari? kalian dengan angkuh menciptakannya, namun kemunafikan kalian dan ketidak beranian kalian akhirnya menyembunyikan bukti-bukti, yang membuatnya makin rapuh. Sikap itu adalah warisan nenek moyang kalian yang terburuk, namun kalian mensucikannya. Kita harus berani jujur, dengan segala bentuk kita, nalar kita, kehendak kita diperuntukkan keabadian dunia!"