Rabu, 21 Oktober 2015

Atheisme Ludwig Feuerbach

Feuerbach adalah orang yang pertama kali memberikan landasan rasional ilmiah terhadap atheisme. Dia juga adalah salah satu pendukung filsafat dialektis Hegelian. Alih-alih mendukung sepenuhnya konsep hegelian, hal yang menurutnya bertentangan antara dirinya dengan konsep Hegel adalah tentang sesuatu yang nyata dan rasional. Bagi Feuerbach, manusia adalah nyata dan rasional, sedangkan roh semesta (yang dinyatakan oleh Hegel dan diasosiasikan dengan Tuhan/Allah) adalah sesuatu yang tidak nyata.
Bagi Feuerbach, agama adalah proyeksi manusia atas keterasingan dirinya. Agama menjadi tempat bagi manusia untuk mengasingkan dirinya dari kehidupannya. Sebagai proyeksi, agama tak lain dari sesuatu yang diberikan penghargaan positif terhadap dirinya. Segala konsep tentang Tuhan, Malaikat, Surga, dan Neraka yang ada dalam agama tak lain daripada hasil proyeksi manusia itu sendiri. Dengan kata lain, manusia yang mengkonsepkan hal-hal itu. Manusia yang menciptakan Tuhan, dan bukan Tuhan yang menciptakan manusia.
Agama berdampak positif bagi manusia. Segala sesuatu yang Maha, misalnya Adil, Baik, Penyayang, Pengampun, dll yang ada dalam Tuhan Agama, tidak lain daripada proyeksi manusia itu sendiri. Hal itu sebenarnya telah ada dalam eksistensi manusia. Bukannya menjadikan sesuatu yang Maha itu menjadi milik manusia, manusia justru terjebak dalam pemujaan dan penyembahan kepada agama dan Tuhan yang sebetulnya telah berada dalam dirinya dan menjadi miliknya. Oleh karena itu, manusia harus mengambil kembali ke-Maha-an itu kedalam dirinya. Agama dan Tuhan bukan lagi merupakan sesuatu yang menjadi pusat bagi manusia, tetapi justru manusialah pusat dari segalanya.

Atheisme Sigmund Freud

Sigmund Freud adalah seorang psikiater yang menciptkan dan mengembangkan metode Psikoanalisis. Suatu metode/teori yang kemudian menjadi salah satu aliran besar dalam psikologi. Freud mengikuti alur berpikir Feuerbach dengan filsafat reduksionisme-nya bahwa agama “tak lain daripada…”
Buku karya Freud yang menyatakan atheismenya adalah Totem and Taboo (1913) dan Moses and Monotheism (1938). Menurut Freud, ritual-ritual keagamaan mempunyai kemiripan dengan ritual yang ada dalam gangguan obsesif-kompulsif. Obsesif-kompulsif adalah suatu gangguan psikologi (psychological disorder) dimana seseorang tidak mampu menahan keinginannya untuk melakukan suatu gerakan/aktivitas berulang-ulang, misalnya mencuci tangan berkali-kali, dll. Freud juga mengatakan “neurosis as an individual religion, religion as a universal obsessional neurosis”. Suatu pernyataan yang jelas mengaitkan antara agama dan neurosis.
Dilain pihak, Freud juga mengatakan bahwa agama tak lain daripada sublimasi insting-insting seksual. Teori Psikoanalisis Freud dibangun diatas satu konsep yang disebut Psikoseksual, bahwa dorongan-dorongan seksual (sexual drive/libido) adalah dorongan yang terutama dalam diri manusia yang membuat manusia itu bisa bertahan hidup. Sedangkan sublimasi adalah salah satu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang dibangun manusia untuk menyeimbangkan egonya dari dorongan-dorongan yang berasal dari ketidaksadaran. Insting-insting seksual manusia harus diberi bentuk lain agar dapat diterima secara sosial, dan semuanya itu ada dan tampak dalam agama. Agama adalah sublimasi dari insting-insting seksual manusia agar dapat diterima oleh masyarakat.

Sabtu, 06 Juni 2015

Prolog Tentang Falsafah Jawa

http://scontent.cdninstagram.com/hphotos-xaf1/t51.2885-15/e15/11018517_1613253775577702_1066901960_n.jpgFalsafah Jawa adalah ajaran hidup yang umum dipakai atau berlaku di masyarakat Jawa, Indonesia.[1][2]
Falsafah hidup Jawa menekankan keharmonisan, keselarasan pada setiap dimensi kehidupan, salah satunya dengan alam. Dalam buku Etika Jawa, Frans Magnis Suseno menjelaskan bahwa orang Jawa tidak mengenal baik dan jahat, melainkan orang yang bertindak karena ketidaktahuan.[1]

Falsafah Hidup Jawa terbagi menjadi 3 macam warna Falsafah.
1. Falsafah Hidup Majapahit, terlihat pada nilai-nilai moral dan kehidupan yang diterapkan oleh Jawa Ketimuran. nilai-nilai ini terlihat pada sistem politik yang dipakai oleh kerajaan Majapahit atau Singosari. dengan sikap yang lebih terbuka, ekspansionaris dll. Falsafah ini berawal dari pengaruh teologi Hindu, etos ekspansionaris (Ken Arok, Gajah Mada), etos keterbukaan dan kenaturalan sikap (Pemberontakan-pemberontakan dan praktek perebutan kekuasaan oleh Ken Arok) dan hingga kini masih mempengaruhi etika keseharian masyarakat. Saat Majapahit memasuki era kemaharajaan Thalasokrasi saat pemerintahan Gajah Mada, beberapa negara bagian di luar negeri juga termasuk dalam lingkaran pengaruh Majapahit, sebagai hasilnya, konsep teritorial yang lebih besar pun terbentuk:
Negara Agung, atau Negara Utama, inti kerajaan. 
Mancanegara, area yang melingkupi Negara Agung. Area ini secara langsung dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa, dan wajib membayar upeti tahunan. Akan tetapi, area-area tersebut biasanya memiliki penguasa atau raja pribumi, yang kemungkinan membentuk persekutuan atau menikah dengan keluarga kerajaan Majapahit. Wilayah Mancanegara termasuk di dalamnya seluruh daerah Pulau Jawa lainnya, Madura, Bali, dan juga Dharmasraya, Pagaruyung, Lampung dan Palembang di Sumatra. 
Nusantara, adalah area yang tidak mencerminkan kebudayaan Jawa, tetapi termasuk ke dalam koloni dan mereka harus membayar upeti tahunan. Mereka menikmati otonomi yang cukup luas dan kebebasan internal. Termasuk dalam area ini adalah kerajaan kecil dan koloni di Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Ketiga kategori itu masuk ke dalam lingkaran pengaruh Kerajaan Majapahit. Akan tetapi Majapahit juga mengenal lingkup keempat yang didefinisikan sebagai hubungan diplomatik luar negeri:
Mitreka Satata, yang secara harafiah berarti "mitra dengan tatanan (aturan) yang sama". Hal itu menunjukkan negara independen luar negeri yang dianggap setara oleh Majapahit, bukan sebagai bawahan dalam kekuatan Majapahit.
2. Falsafah Hidup Mataram, terlihat pada nilai-nilai moral dan kehidupan yang diterapkan oleh Jawa mataraman (Jogja, Solo). Nilai-nilai ini terlihat pada sistem politik yang dipake oleh kerajaan mataram (Kesultanan Hamengkubowono, Kesunanan Pakubuwono). dengan sikap yang lebih tertutup, adap asor, halus dll. Falsafah ini berawal dari pengaruh teologi Budha. Etika Mataram menekankan sikap hormat terhadap apa saja karena segala yang ada di dunia adalah percikan zat ilahi.[3] Sikap hormat semacam ini melampaui sikap hormat yang didasarkan pada hirarki jabatan dalam institusi-insitusi.[3] Oleh karena itu, penghormatan kepada seorang raja pun sesungguhnya didasarkan pada keyakinan bahwa seorang raja merupakan wakil Tuhan untuk melangsungkan tatanan dunia sesuai kehendak ilahi, dan apabila seorang raja gagal melaksanakan mandat menyejahterakan rakyat karena lebih senang memenuhi nafsu-nafsu pribadi, maka ia akan kehilangan legitimasi kekuasaan dari rakyat.[3] 
3. Falsafah Hidup (Indonesia yang di Jawakan), Ini sangat terlihat pada nuansa sosial politik dan simbol-simbol kenegaraan saat ini. Dari 2 falsafah hidup diatas kiranya meruncing atau terkristral menjadi falsafah hidup yang kita pakai saat ini, yaitu falsafah Pancasila. Dengan masuknya kebudayaan India ke Jawa melalui penyebaran agama Hindu dan Buddha, maka ajaran Pancasyila pun masuk kedalam kepustakaan Jawa, terutama pada masa Kerajaan Majapahit dibawah kekuasaan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Pada masa itu istilah Pancasila dapat ditemukan dalam buku Negarakertagama karya Empu Prapanca dan buku Sutasoma karya Empu Tantular. Dalam buku Negarakertagama terdapat ketentuan bagi para raja yang berbunyi “Yatnaggegwani Pancasyiila kertasangkarbhisekaka krama” yang artinya “Raja menjalankan dengan setia kelima pantangan begitu pula upacara-upacara ibadat dan penobatan”.
Nilai-nilai Pancasila secara intrinsik bersifat filosofis, dan di dalam kehidupan masyarakat indonesia nilai Pancasila secara praktis merupakan filsafat hidup (pandangan hidup). nilai dan fungsi filsafat pancasila telah ada jauh sebelum indonesia merdeka. hal ini dibuktikan dengan sejarah majapahit (1293). Pada waktu itu Hindu dan Budha hidup berdampingan dengan damai dalam satu kerajaan. 
Empu tantular yang mengarang buku “sutasoma” yang di dalamnya memuat seloka yang berbunyi : “Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma Mangrua”, artinya walaupun berbeda namun satu jua adanya, sebab ada tidak agama yang memiliki Tuhan yang berbeda. Hal ini menunjukkan adanya realitas kehidupan agama pada saat itu, yaitu agama Hindu dan Budha. Bahkan salah satu kerajaan yang menjadi kekuasaannya yaitu pasai jutru telah memeluk agama islam.
Dalam kehidupan bangsa indonesia diakui bahwa nilai Pancasila adalah pandangan hidup (filsafat hidup) yang berkembang dalam sosio-budaya Indonesia. Nilai Pancasila dianggap sebagai nilai dasar dan puncak (sari-sari) budaya bangsa, karenanya nilai ini diyakini sebagai jiwa dan kepribadian bangsa.

Falsafah hidup Jawa tertuang dalam berbagai bentuk karya peninggalan orang Jawa seperti epos Mahabarata, Ramayana, atau karya-karya mitologis lainnya.[4] Selain itu bebeapa bentuk karya lain yang merupakan sumber ajaran etika Jawa berupa tembang, cerita rakyat, peribahasa, slogan-slogan tertentu hingga petuah-petuah sederhana yang sering diucapkan masyarakat dalam hidup sehari-hari.[3][1] Selain itu, sumber etika yang lazim didapati dalam hidup keseharian dapat digali dari ritus-ritus slametan yang sarat dengan simbol-simbol penuh makna sebagai panduan hidup.[5]

Terdapat dua tradisi mitologi wayang terbesar yang hidup dalam masyarakat Jawa, yaitu epos Mahabarata dan Ramayana.[4] I Gede Samba, seorang penafsir cerita Mahabarata dan Ramayana mengatakan bahwa kedua epos tersebut harus dilihat sebagai mitologis, bukan kisah sejarah.[4] Narasi-narasi kisah, karakter setiap tokoh dalam epos Mahabarata dan Ramayana, termasuk perang-perang yang ada dalamnya harus dilihat sebagai kisah yang terjadi dalam setiap manusia, dalam diri manusia, bukan kisah antar-individu.[4] Setiap peristiwa, perang misalnya, adalah perang yang pertama-tama terjadi dalam diri seseorang, bukan perang antar-manusia.[4] Perang antara Kurawa dan Pandawa misalnya, adalah perang antara sifat buruk dan sifat baik yang ada dalam diri seseorang, sehingga perang yang paling pantas dilakukan adalah perang terhadap watak buruk dalam diri sendiri, bukan memerangi pihak (orang) lain yang perlu dimusnahkan.[4] Etika Jawa menghindari peperangan antar-pribadi, antar-kelompok, karena manusia harus hidup dalam harmoni.[4] Jika keharmonisan mulai hilang dari masyarakat, maka pertama-tama manusia harus menilik ke dalam diri tentang apa yang salah dalam dirinya.[4]

Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan : Sangkan Paraning Dumadhi (lit. "Dari mana datang dan kembalinya hamba tuhan") dan membentuk insan se-iya se-kata dengan tuhannya : Manunggaling Kawula lan Gusthi (lit. "Bersatunya Hamba dan Tuhan"). Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut:

  1. Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi)
  2. Mamayu Hayuning Kaluwarga (sebagai rahmat bagi keluarga)
  3. Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia)
  4. Mamayu Hayuning Bhuwana (sebagai rahmat bagi alam semesta)
Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Kejawen hakikatnya adalah suatu filsafat dimana keberadaanya ada sejak orang Jawa (Bahasa Jawa: Wong Jawa, Krama: Tiyang Jawi) itu ada. Berbeda dengan kaum abangan kaum kejawen relatif taat dengan agamanya, dengan menjauhi larangan agamanya dan melaksanakan perintah agamanya namun tetap menjaga jatidirinya sebagai orang pribumi, karena ajaran filsafat kejawen memang mendorong untuk taat terhadap tuhannya. jadi tidak mengherankan jika ada banyak aliran filsafat kejawen menurut agamanya yang dianut seperti : Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Kristen Kejawen, Budha Kejawen, Kejawen Kapitayan (Kepercayaan) dengan tetap melaksanakan adat dan budayanya yang tidak bertentangan dengan agamanya. 

Referensi
  1. ^ a b c d e f (Indonesia)Frans Magnis Suseno., Etika Jawa: Sebuah analisa falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa, Jakarta: Penerbit PT Gramedia, 1984
  2. ^ a b c (Indonesia)Wiwien Widyawati, Etika Jawa: Menggali Kebijaksanaan dan Keutamaan demi Ketentraman Hidup Lahir Batin, Yogyakarta: Shaida, 2012
  3. ^ a b c d e f g h i j k l (Indonesia)Frans Magnis Suseno dan S. Reksosusilo., Etika Jawa dalam Tantangan. Yogyakarta: Kanisius, 1983.
  4. ^ a b c d e f g h (Indonesia)I Gede Samba., Merajut Budaya Bangsa: Tinjauan Filsafati cerita Mahabharata dan Ramayana. Bandung: Yayasan Dajan Rurung Indonesia, 2013
  5. ^ a b c d e f g (Indonesia) Ignas G. Saksono dan Djoko Dwiyanto., Terbelahnya Kepribadian Orang Jawa, Yogyakarta: Keluarga Besar Marhaenis DIY, 2011
 

Jumat, 05 Juni 2015

Sabda Siti Djenar 001

https://alfiananda.files.wordpress.com/2010/02/syekh1.jpgSiti Djenar keluar dari kelas filsafatnya yang beku setelah sekian lama berdiam diri lalu berseru lantang di tengah-tengah kerumunan mahasiswa disebuah kampus bak seorang nabi :

"Dan apa yang kalian sebut sebagai dunia, yang telah ber abad-abad telah dibangun oleh nenek moyang kalian serta kalian, seharusnya tanpa ada rasa takut untuk mengakuinya dengan segala cinta nenek moyang kalian dan cinta kalian, bukankah sudah kalian sadari? kalian dengan angkuh menciptakannya, namun kemunafikan kalian dan ketidak beranian kalian akhirnya menyembunyikan bukti-bukti, yang membuatnya makin rapuh. Sikap itu adalah warisan nenek moyang kalian yang terburuk, namun kalian mensucikannya. Kita harus berani jujur, dengan segala bentuk kita, nalar kita, kehendak kita diperuntukkan keabadian dunia!"

Kamis, 04 Juni 2015

Søren Kierkegaard, Journals (20 November 1847)

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/89/Kierkegaard.jpgApa yang dibutuhkan zaman ini bukanlah seorang jenius — orang jenius sudah cukup banyak —, melainkan seorang martir, yang untuk mengajar manusia agar taat hingga mati, ia sendiri akan taat hingga mati. Apa yang dibutuhkan zaman ini adalah kebangkitan. Dan karena itu suatu hari kelak, bukan hanya tulisan-tulisan saya, tetapi juga seluruh hidup saya, seluruh misteri yang membangkitkan tanda tanya tentang mesin ini akan dipelajari dan dipelajari terus. Saya tidak akan pernah melupakan bagaimana Tuhan menolong saya dan karena itu adalah harapan saya terakhir bahwa segala sesuatunya adalah untuk kemuliaan-Nya.

Minggu, 31 Mei 2015

KEINDONESIAAN


“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia – manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai Tanah Air Indonesia.” Soe Hok Gie

"Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia-Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya." Bung Hatta


“Lahirnya sebuah negara, dari cita-cita politik sebuah bangsa. Lahirnya karakter bangsa, merupakan dinamika sosial dari individu-individunya. Tanah air dulu memiliki makna sebagai simbol kekuasaan, tapi dewasa ini tanah air hanyalah tempat tinggal. Titip salam untuk Neoliberalisme.” Kataku...
Keberadaan Bangsa Indonesia ini kiranya cukup untuk menjadi study banding kita sebagai pemuda yang terlahir di tanah air ini. Kita ada baik yang terlahir dari inang Melayu, dari inang melanesia, dari inang arab, maupun dari inang-inang lain. Memiliki hak mencintai negara ini, memiliki hak menyampaikan patriotisme dengan prinsip kita, serta memiliki hak menikmati hidup yang layak di tanah air ini.
Semangat kebangsaan ditiap-tiap masa peradaban manusia memiliki hakikat yang berbeda-beda. Diawal peradaban manusia, mereka memaknai bangsa sebagai satu kesatuan suku yang memiliki paras dan budaya yang sama. Dalam perkembangannya peradaban sosial manusia mulai mengenal sistem politik kerajaan; kekaisaran; politik dinasti, dimana ditiap-tiap bangsa memiliki simbol-simbol kenegaraan dan simbol-simbol kebangsaan yang terwujud dalam kasta bangsawan. Mungkin di tanah air yang kita diami ini pernah ada suatu bangsa atau negara seperti contohnya Majapahit, Singosari, mataram dimana budaya jawa sebagai simbol superiornya, atau mungkin kerajaan sriwijaya dengan budaya melayu kunonya sebagai simbol superiornya. Salah satu tokoh kuno yang populer, Gajah Mada. Beliau pernah mencatatkan namanya dalam sejarah besar dunia dengan Sumpah Palapa, yang substansinya beliau bersumpah untuk mengekspansi kekuasaan bangsa dan negaranya seluas-luasnya, maka ketika itulah Wawasan Nusantara mulai ada. Disatu sisi Wawasan Nusantara dianggap sebagai wujud cita-cita luhur bangsa, disisi lain Wawasan Nusantara hanyalah alat propaganda sebuah etnis superior yang haus kekuasaan.
Dalam berkembangnya waktu bentuk karya sosial manusia dalam hal kebangsaannya mulai berkembang dengan adanya sistem Ekspansi, Kolonialisme serta Penjajahan. Sistem vandalisme dan perbudakan suatu bangsa untuk bangsa lain, melahirkan bangsa Tuan dan bangsa Budak. Seperti lahirnya kekaisaran Romawi, dalam perkembangannya Agama mulai dipakai sebagai alat politik, khususnya di Romawi. Timur tengah melahirkan kekhalifahan, dari dampak Perang Salib yang berkepanjangan sehingga menunjukkan dominasi kekhalifahan Turki Usmani dan menyebabkan bangsa-bangsa eropa melakukan ekspansi ke seluruh penjuru dunia. lalu ada istilah Gold Gospel Glory oleh spanyol dalam mengekspansi dunia, yang bersama-sama dengan portugis untuk bersaing menguasai dunia. Gold, Gospel, Glory memiliki makna Cita-Cita Ekonomi, Pesan Agama Dan Kejayaan Bangsa. Tanah air ini sebagai saksi adanya negara Hindia Belanda kuno ada, sebagai bentuk praktek kenegaraan era ini.
Dalam perkembangannya sistem kolonialisme ini berubah dengan adanya reformasi-reformasi perdagangan, disinilah awal mula kaum-kaum Borjuis yang mempropagandakan Kapitalisme. Mungkin berawal dari Revolusi Perancis ataupun Revolusi Industri di Inggris. Negara hanyalah sebagai alat perorangan yang superior, dimana perusahaan sebagai simbol powernya. Wajar saja nenek moyang kita menyebut kaum-kaum itu sebagai kaum kompeni, yang diserap dari bahasa Inggris “Company” yang berarti Perusahaan. Sejarah mencatat adanya sikap adi daya dari VOC pada era kolonialisme hindia belanda, sebagai contohnya.
Kajian kita secara sejarah peradaban manusia tak cukup disini. Masih ada beberapa catatan penting dalam dinamika sosial politik peradaban manusia. Salah satunya adalah lahirnya liberalisme yang diusung oleh kaum revolusioner inggris yang mengantarkan lahirnya negara Amerika Serikat, dengan propaganda Freedom Of Justice nya dan semangat kaum yang ditindas oleh kelompok atau kaum bangsawan, kaum agamawan ataupun tuan tanah. Inilah awal kesempurnaan dari ideologi kapitalisme baru yang kita sebut dengan neo liberalisme. Konsep PBB dan HAM dari sini.
Sistem tandingan Kapitalisme, yaitu Sosialisme. Filosofi sosialisme dipopulerkan olah Karl Marx, yang salah satu karya ilmiah sosial beliau yaitu yang terangkum dalam buku das capital, sebagai bukti sistem ini lawan dari kapitalisme. Awal kejayaan ideologi ini adalah dengan lahirnya Revolusi Uni Soviet oleh kaum Bolshevik, di China ada gerakan Mao Zedong. Secara langsung mempengaruhi peradaban nusantara kita, seperti dengan lahirnya Indische Sociaal Democratische Vereeniging-, ISDV yang dalam perkembangannya berubah menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia). Cita-cita ISDV adalah menjatuhkan dominasi Kapitalisme dan kolonialisme Belanda.
Pada awal abad ke 20, propaganda Nasionalisme ada dimana-mana, di tanah air ini sendiri terjadi semangat Sumpah Pemuda, dibelahan bumi yang lain terciptanya perang dunia pertama, perang dunia kedua, ambisiusme fasisme jerman dan jepang, dan perjuangan kemerdekaan dari kolonialisme dimana-mana. Lalu mengantarkan terusirnya kolonialisme Belanda oleh Jepang, disusul jatuhnya jepang dalam perang dunia kedua yang disebabkan dijatuhkannya Bom atom di kota Nagasaki dan Hiroshima oleh Amerika Serikat. 17 Agustus 1945, Proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia, maka lahirlah negara Indonesia dengan bangsanya. Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Banyak versi tentang asal usul nama Indonesia, ada kiblat versi Hindu-Nesia, ada versi kiblat Indo-Nesia. Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan National Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.
Dari sini sebenarnya kita sudah bisa menggambarkan kira-kira karakter bangsa kita ini seperti apa. Walaupun dalam kajian lebih lanjut terkait sejarah dinamika sosial politik bangsa ini dan manusia di dunia pada umumnya. Seperti adanya Pemberontakan G30S/PKI, disusul dengan adanya Supersemar yang akan menjatuhkan kekuasaan Soekarno. Lalu melahirkan Orde Baru Soeharto dan lahirnya momentum Reformasi 98 yang menjatuhkan orde baru. Disisi lain jatuhnya Komunisme Uni sovyet pada perang dingin yang berkepanjangan dengan poros Amerika Serikat.
Reformasi yang harapannya sebagai Representatif Demokrasi, cita-cita demokrasi untuk keadilan sosial justru malah gagal, Dengan adanya Demokrasi Berbasis Partai, karena hanya menyentuh aspek metode yang demokratis saja, belum menyentuh aspek prinsip dan cita-cita Demokrasi. kemunduran dan bahkan keterbelakangan refleksi atau pembalikan ini sebetulnya kegagalan yang tidak khas Indonesia karena krisis demokrasi ini juga berlangsung ditingkat global. Indonesia terbiasa melakukan Demokrasi Representatif ini sebenarnya sebuah kegagalan, bahwa Indonesia melakukan praktek demokrasi yang Representatif Elitis itu hanyalah sebuah gejala-gejala kegagalan saja. selama tahun 99-2006 sebenarnya yang terjadi hanya liberalisasi politik. Kemudian terjadi elitokratif dimana pembajakan demokrasi muncul. Dan kita melihat gejala Rekonsolidasi untuk Kapitalisme. Kaum konserfatif liberal sering membayangkan setelah reformasi akan ada konsolidasi demokrasi dan sesungguhnya yang terjadi adalah konsolidasi politik berbasis partai, konsolidasi yang diharapkan untuk cita-cita Demokrasi ternyata gagal. Memang ada regeneralisasi, manfaat lahirnya partai-partai. Tapi sebenarnya yang terjadi kebangkitan partai politik – partai politik kolonial, makanya banyak predator-predator lokal yang bersama dengan birokrasi lokal hingga nasional itu berlangsung. fenomena ini bahwa sebenarnya kegiatan-kegiatan partai-partai itu bermain menguasai panggung, partai-parti itu hanyalah dan tidak bukan sebuah organisasi-organisasi yang haus kekuasaan yang berlangsung paska orde baru. Dan bahayanya ini sebagai basis demokrasi. Sistem politik di Indonesia sebenarnya adalah sistem yang dikendalikan oleh suatu organisme dan itu sendiri dilakukan pemodal, khususnya pemodal-pemodal asing dan ini membuka cakrawala kita. Simbol Kenegaraan yang dulunya menjaga NKRI, sekarang sebenarnya menjaga kekuatan-kekuatan politik. Semua ini memperlihatkan bahwa, kegagalan cita-cita Demokrasi justru mempersubur perilaku politik predatorial. Jadi gabungan dari Predator Politik, Predator Birokratif, Predator Korporatif. Salah satu dampaknya adalah banyaknya gerakan-gerakan Separatis di NKRI kita ini, sebagai wujud kekecewaan.


"New World Order, Freedom of Justice, Pluralism"

Oleh : Usul Pujiono E

Quotes - Simone de Beauvoir

"Aku merobek diri dari kenyamanan yang aman dari kepastian melalui kasih saya untuk kebenaran - dan kebenaran dihargai saya." Simone de Beauvoir

Martin Heidegger seorang filsuf yang rumit

Mengevaluasi Martin Heidegger yang rumit oleh dukungannya untuk Nazi. Beliau adalah orang dekat dengan pemikir Yahudi - namun ia memeluk gerakan Nazi. Beberapa orang jahat memiliki beberapa "baik" nilai-nilai, sementara beberapa orang yang baik berakhir dikaitkan dengan kejahatan serius.


Beberapa hidup seperti penuh lingkaran, dan kehidupan Martin Heidegger mulai dan berakhir di Black Forest. Lahir 26 September 1889 di Messkirch, ia kemudian akan kembali ke Black Forest untuk melarikan diri dengan warisannya sebagai simpatisan Nazi.
Martin Heidegger adalah seorang mahasiswa, dan asisten, Edmund Husserl, ia pada tahun 1928 sebagai guru besar filsafat di Freiburg. Heidegger mulai meningkat di pembentukan akademis sebagai seorang fenomenolog, di bawah bimbingan Husserl. Bahkan, karya klasik Heidegger, Being and Time diterbitkan pada 1927 Yearbook for Phenomenolgy and filosofis Research. Heidegger
Salah satu siswa Heidegger adalah Jean-Paul Sartre, kemudian menjadi eksistensialis Perancis yang paling menonjol. Sayangnya, sejarah membuat dua orang ini terpisah, dimana Heidegger tetap di Jerman di bawah Sosialis Nasional, bahkan bergabung dengan Partai Nazi.
Banyak mahasiswa filsafat telah kesulitan memisahkan kecemerlangan Heidegger dan penggunaan bahasa aneh-mistik dari dukungan dari Adolph Hitler dan Sosialis Nasional dari tahun 1933 sampai 1945. Ini harus dipahami bahwa Heidegger, seperti semua filsuf, tidak kebal terhadap peristiwa di sekelilingnya . Penelitian ini merupakan kontradiksi dari gagasan bahwa semua orang yang bertanggung jawab atas tindakan mereka, terlepas dari pengaruh luar.
Heidegger, pada Sein und Zeit telah berbicara banyak dan tegas akan menghadapi kematian, bergabung dengan Nazi setelah Hitler berkuasa dan, sebagai Rektor di universitas, menyampaikan pidato pengukuhannya yang untungnya bagi dia tidak banyak dibaca. Jika, seperti sekarang ia mengatakan, ia segera meninggalkan Nazisme itu adalah lebih luar biasa, yang tekadnya disimpan begitu tenang bahkan saat ini banyak tetap tidak yakin.
- Eksistensialisme; Kaufmann, p. 47
Profesor Richard Wolin dan penelitian lainnya sekarang percaya Heidegger didedikasikan untuk Partai Sosialis Nasional, acuh tak acuh terhadap bagaimana Hitler memerintah Jerman.
Meskipun keluhan Richard Wolin dengan Derrida tidak jadi masalah untuk "Anak Heidegger," seseorang tidak dapat membantu perasaan bahwa, secara tidak langsung, ia sedang repris. Jantung kontroversi itu tuduhan Wolin bahwa Derrida telah disesuaikan nya "terlalu mengada-ada dan tidak masuk akal" pendapat tentang Heidegger Nazisme untuk menghindari pertanyaan penting: dengan merangkul filsafat pemikir Jerman legendaris, memiliki Derrida dan postmodern radikal kiri lainnya menerima inti dari Heidegger politik meragukan juga?
- "Heidegger Anak": Sins Bapa; Ulasan oleh James Ryerson, New York Times pada Resensi Buku Web; 21 Desember 2001
Jerman di mana Heidegger hidup adalah sebuah negara dalam keadaan konstan perang dan perpecahan. Hanya beberapa tahun sebelum kelahirannya, Jerman modern yang dibentuk dari daerah sebelumnya bermusuhan. Jerman adalah negara dengan beberapa batas alam, yang menyebabkan para pemimpinnya untuk percaya bahwa cara terbaik untuk menjaga Jerman adalah militer yang kuat. Kekuatan-kekuatan militer sering bertabrakan.
Heidegger datang dengan keinginan negara yang diperintah oleh kelompok elit tentara-filsuf. Dia datang untuk tidak mempercayai selera publik, modernitas, dan lembaga-lembaga demokratis. Sosialis Nasional cocok visinya dari, pemerintah pusat baru yang kuat. Apa yang harus bertanya-tanya adalah bagaimana Heidegger mampu berhubungan damai dengan siswa keturunan Yahudi di kamp-kamp konsentrasi Nazi.
Sebelum Heidegger menjadi rektor Nazi dari Universitas Freidburg pada tahun 1933, ia menjabat sebagai guru untuk empat siswa berbakat dari latar belakang Yahudi berasimilasi Jerman. Hannah Arendt, yang pada usia 18 tahun mulai hubungan cinta yang selama tiga tahun terjalin dengan Heidegger, mencapai ketenaran sebagai pemikir politik. Herbeert Marcuse, dikecam oleh Paus pada akhir 1960-an, menjadi seorang guru filsafat di New Left. Hans Jonas menjadi seorang ahli teori perintis lingkungan hidup, melayani sebagai batu ujian bagi Jerman Partai Hijau. Dan Karl Lowith menjadi seorang sarjana dibedakan kesadaran sejarah modern.
- "Heidegger Anak": Sins Bapa; Ulasan oleh James Ryerson, New York Times pada Resensi Buku Web; 21 Desember 2001
Salah satu alasan bahwa Heidegger tidak mungkin menentang penaklukan Nazi Perang Dunia II adalah ketidakpercayaan Jerman lama dari Perancis. Napoleon I telah menaklukkan Jerman. Akibatnya, banyak orang Jerman masih menganggap budaya Perancis ancaman warisan Jerman. Kemudian dalam kehidupan, banyak orang Jerman akan melihat Uni Soviet dalam cahaya yang sama. Sampai kematiannya, Jerman masih menjadi situs penting dari Perang Dingin antara Komunisme dan demokrasi Barat.
Heidegger diketahui telah disebut "kebenaran batin dan kebesaran" Nazi lama setelah jatuhnya Reich Ketiga. Superioritas Jerman dan kebanggaan nasionalistik dikaburkan pandangan Heidegger akan sejarah.
Apa yang membuat penasaran Heidegger sebagai pendiri eksistensialisme adalah bahwa ia sangat keberatan yang dianggap sebagai salah satu dari Eksistensialis, yang akan menempatkan dia di perusahaan dengan Sartre dan Camus. Orang-orang ini, komunis Perancis, dan lainnya itu Heidegger berharap agar siapa pun untuk terbuka kepadanya.

Heidegger di Buku Hitam

https://acidted.files.wordpress.com/2014/09/martin-heidegger-quotes-5.gif
Martin Heidegger menulis beberapa "buku hitam" dari tahun 1931 sampai 1941. Mereka mengungkapkan dia sebagai seorang pria yang menolak untuk meninggalkan delusi politiknya.

Untuk Heidegger, kebenaran dalam dan kebesaran gerakan Nazi terletak pada pertemuan antara teknologi global dan manusia modern. Setelah 1934 ia merasa bahwa Nazisme telah mengkhianati janjinya dan menyerah pada nasib teknologi yang menderita zaman modern.

Dalam Menjadi dan Waktu (1927), Heidegger ditetapkan tantangan berani untuk gambar konvensional dari manusia sebagai makhluk berpikir. Ia mengusulkan sebaliknya bahwa filsafat harus mengambil sebagai isyarat perdagangan kita sehari-hari dengan hal-hal duniawi. Manusia direndam dalam dunianya. Dasein adalah suatu peristiwa yang sedang berlangsung yang dilemparkan ke dalam waktu dan hanya bisa datang pada dirinya sendiri karena menekan maju ke kemungkinan sendiri.

Heidegger mengatakan wawasan memungkinkan manusia untuk memahami dirinya sebagai itu benar-benar meskipun kejatuhan dan opacity dari makhluk tersebut. Dasein keuntungan pengetahuan ini dalam mengantisipasi akhir sendiri. Keberadaan berkelanjutan tergantung pada keputusan tegas untuk merangkul kemungkinan tertentu sebagai sendiri. Keaslian merupakan penegasan gigih dari sejarah rakyatnya sendiri seseorang dan kekerasan nasibnya.

Heidegger menolak ide dan proposisi seperti dia menolak model Cartesian pikiran terlepas. Dia menolak teori belaka terhadap soliditas dan kemanjuran praktek duniawi. Sebagai rektor ia mencoba untuk melawan Sosialisme Nasional vulgar. Dia mengungkapkan kekhawatiran bahwa bahasa kekuasaan rasisme diduga ilmiah akan menyesatkan orang-orang Jerman dari misi sejarah yang benar.

Bulus merupakan kekuatan teknologi yang Heidegger melihat sebagai mendominasi dunia modern. Dia merenung atas kekuatan tanpa syarat bulus dan berdasarnya lengkap hal. The kekuasaan orang Yahudi milik metafisika Barat. Heidegger pada tahun 1941: "Pertanyaan mengenai peran Yahudi dunia bukan ras tetapi pertanyaan metafisik."

Heidegger digabungkan mode teknologi di komentar pascaperang bahwa "pembuatan mayat di kamar-kamar gas dan kamp-kamp kematian" dan industri makanan mekanik pada dasarnya sama.

Filsafat tidak membuat Heidegger bijaksana.

Heidegger Notebook Hitam

  http://proyectoidis.org/wp-content/uploads/2013/08/heideggermartin.gif
Notebook Hitam Heidegger berisi berkelanjutan refleksi pada masalah kontemporer seperti yang dilihat dari sudut pandang sejarah Being. Konsep Volk ia memeluk di Menjadi dan Waktu (1927) Polis pandangan politiknya bahwa masyarakat rendah dapat adil dianiaya.

Heidegger: ". Manusia tidak memutuskan apakah dan bagaimana makhluk muncul, apakah dan bagaimana Tuhan dan para dewa atau sejarah dan alam maju ke pencahayaan Menjadi, datang ke keberadaan dan berangkat Munculnya makhluk terletak pada nasib Menjadi."

The Notebook Hitam mencerminkan antusiasme Heidegger untuk Jerman "Revolusi Nasional" tahun 1933, dari mana ia diharapkan "transformasi total Jerman Dasein kami": "The metafisika Dasein harus memperdalam sendiri dengan cara yang konsisten dengan struktur dalam dan meluas ke metapolitics dari sejarah Volk. "

Heidegger menyatakan bahwa keunggulan Existenzphilosophie nya berasal dari klaim untuk menjadi berakar pada Being. Ideologi völkisch Nazi didasarkan pada kebajikan Bodenständigkeit, di mana Heidegger melihat afinitas yang mendalam dengan ontologi sendiri.

Yahudi tidak memiliki Bodenständigkeit, kapasitas untuk völkisch milik berpredikat pada berakar di Being. Dan mereka telah menemukan universalisme agama. Ini adalah kutukan bagi Heidegger, yang melihatnya sebagai sisa-sisa idealisme ia berusaha untuk "memusnahkan" dengan memutar ke Being.

Kritik Heidegger teori pengetahuan yang abstrak dari kondisi yang sebenarnya dari eksistensi manusia adalah sangat asli dan tetap penting. Filosofinya eksistensi merevolusi perusahaan filsafat transendental. Tapi ontologi dasarnya adalah mendalam dan irredeemably ideologis.

Tidak peduli di mana Heidegger melatih tatapannya, dia melihat manifestasi historis-ontologis degenerasi, dan berfikir statis dan diskualifikasi Menjadi. Istilah yang disukainya untuk ini adalah Machenschaft atau "bulus". Dia percaya bahwa Uni Soviet, Amerika Serikat, dan Inggris, sebagai perwujudan dari Machenschaft, adalah ekspresi dari semangat Dunia Yahudi.

Kutipan lebih dari Notebook Hitam:

"Sejak zaman dahulu, orang-orang Yahudi ... harus 'hidup' sesuai dengan prinsip ras. Mereka sekarang berusaha untuk membela diri terhadap aplikasi terbatas prinsip yang sama ini."

"Karakter modernitas adalah manipulasi total dan tak henti-hentinya semua Menjadi ... Bentuk borjuis-Kristen Inggris Bolshevisme harus dimusnahkan."

"The Führer telah terbangun suatu realitas baru yang telah rechanneled pemikiran kita sepanjang jalan yang benar dan diresapi dengan energi baru."

"Sosialisme Nasional adalah prinsip barbar. Sinilah terletak esensi dan kapasitasnya untuk kebesaran."

Heidegger mengkhianati filosofi.

Heidegger di Perancis

https://saxonianfolkways.files.wordpress.com/2011/02/heidegger.jpg
Disunting oleh Andy Ross
Martin Heidegger memiliki berdiri lebih tinggi di Perancis daripada di Jerman. Le Monde wartawan Nicolas Weill menulis bahwa volume berikutnya karya lengkap Heidegger menjanjikan jawaban pasti atas pertanyaan apakah Heidegger adalah percaya seumur hidup dalam ide-ide Nazi.

Heidegger bergabung dengan NSDAP Mei 1933, segera setelah asumsi rektor dari Universitas Freiburg. Dia cepat mengatur tentang pembentukan Führerprinzip ada. Dalam pidato pelantikannya sebagai rektor, ia menegaskan bahwa pemikiran tradisional tentang kebebasan akademik yang kosong dan bahwa kebebasan nyata terletak pada tubuh siswa Jerman yang sekarang pawai. Tapi dia mengundurkan diri setelah bertengkar dengan menteri di Berlin. Sebuah komisi denazification pascaperang menyimpulkan bahwa tidak ada bahaya bahwa Heidegger akan pernah lagi mempromosikan ide-ide Nazisme.

Heidegger datang untuk percaya bahwa saat ini ditandai dengan melupakan Menjadi yang menunjukkan dirinya dalam dominasi global ilmu pengetahuan modern dan teknologi. Dia datang untuk menganggap Nazisme hanya sebagai perwujudan lain dari nihilisme dari zaman modern.

Jean-Paul Sartre mengaku berasal dari Heidegger sebuah eksistensialisme menurut mana manusia bebas untuk memutuskan esensi sendiri. Tapi Heidegger mengatakan Sartre mengambil begitu saja bahwa esensi manusia terletak pada tindakan atau keputusan dan merindukan pertanyaan yang lebih mendasar tentang makna Menjadi.

Heidegger muncul di kancah Perancis pasca perang sebagai kritikus teknologi dan modernitas. Tapi kritik dari biologism yang Heidegger dikembangkan tidak bertentangan dengan pandangan dunia Nazi. Dia menolak teori rasial Nazi belum ditahan konsepsi metafisik ras. Dia hanya keberatan dengan landasan teori biologistic dalam konsepsi Darwin hidup.

Martin Heidegger - 2

 http://www.andyross.net/heidegger.jpg
Disunting oleh Andy Ross
Heidegger: The Pengenalan Nazisme dalam Filsafat
Dengan Emmanuel Faye
Yale University Press, 464 halaman
Martin Heidegger adalah Nazi. Rajin memperbaharui keanggotaan partainya setiap tahun antara tahun 1933 dan 1945, komitmennya untuk penyebab Sosialis Nasional adalah terus-menerus. Sebagai rektor Universitas Freiburg, ia memuji "kebenaran batin dan kebesaran" Nazisme pada tahun 1933 alamat Rectoral nya. Mengenakan swastika di kerah nya setiap saat, ia dan istrinya juga dipraktekkan diskriminasi pribadi terhadap Yahudi.

Emmanuel Faye memperkaya potret ini era Nazi Heidegger dengan penelitian baru. Kita belajar bahwa dalam seminar dari 1930-an dan 1940-an ia mendefinisikan orang dalam hal "komunitas saham biologis dan ras." Heidegger akan muncul untuk mengajar, dapperly berpakaian kemeja cokelat, dan salut dengan siswa dengan "Heil Hitler". Faye berpendapat bahwa Nazisme didukung filsafat Heidegger. Untuk membaca Heidegger adalah untuk menemukan filosofi Nazisme.

Tapi Heidegger opus, Menjadi dan Waktu , dikandung selama awal 1920-an dan diterbitkan pada tahun 1927. Dan jika pikiran Heidegger begitu terbelah dengan Nazisme, mengapa para pendukung utamanya belum Nazi?

Di Jerman, ikon radikal seperti Herbert Marcuse atau Jurgen Habermas, atau teladan liberal seperti Hannah Arendt, semua pada satu tahap diperbudak oleh "raja rahasia pikiran," seperti Arendt menjulukinya. Di Perancis, dari eksistensialisme Heidegger dari Jean-Paul Sartre, ke pos-subjek, filosofi anti-humanis dari Louis Althusser atau Jacques Derrida, Heidegger memberikan inspirasi tersebut.

Leo Strauss adalah seorang mahasiswa Heidegger pada tahun 1920. Strauss mahasiswa Allan Bloom, seorang prajurit budaya 1980 lengkungan-konservatif dan secara nyata untuk Saul Bellow ini Ravelstein , disebut Heidegger "kekuatan intelektual yang paling kuat dari zaman kita."

Heidegger meminta ketidaknyamanan karena dia adalah seorang Nazi menyebarkan filosofi non-Nazi. Visi filosofisnya duduk nyaman dengan banyak sikap mainstream, dari serangan lingkungan pada keangkuhan manusia untuk penghinaan sombong untuk konsumerisme. Ontologi nya, obsesinya dengan Seinsfrage, "pertanyaan dari makhluk," adalah pusat pemikirannya.

Seperti yang ia katakan di Menjadi dan Waktu , manusia telah melupakan pertanyaan menjadi. Lupa ini batang kembali ke zaman klasik dan awal tradisi budaya Barat. Dengan kata Heidegger, peradaban Barat telah "tumbuh baik dalam dan dengan cara tradisional menafsirkan sendiri" yang "benar-benar diwarnai oleh antropologi Kristen dan dunia kuno." Istilah seperti "manusia" atau "hewan rasional" menghapus pertanyaan yang oleh mendahului itu. Mereka menyediakan kerangka kerja konseptual yang dapat digunakan untuk memahami dunia dan tempat manusia di dalamnya.

Heidegger membangun, bata demi bata biasa leksikal, potret bagaimana kita sampai mendekati kedua pertanyaan keberadaan dan eksistensi manusia. Jadi, sebagai Dasein (makhluk-ada, frase Heidegger bagi manusia), kami selalu-sudah menemukan diri kita dalam dunia. Dunia ini tampaknya kita berdasarkan hubungan kita dengan hal-hal yang "concern" kami atau dengan alat yang "siap-ke-tangan".

Keberadaan kita di dunia ini juga berada di dunia dengan orang lain. Ini adalah eksistensi sosial, makhluk dalam masyarakat. Ini adalah dunia publik, dunia tugas, tanggung jawab, nilai-nilai. Berikut individu manusia pertemuan "das Man", mereka, satu, lembaga sosial terwujud dalam dunia sosial. Agen sosial menengahi setiap aspek keberadaan individu. "Ini mengatur cara menafsirkan dunia dan Menjadi-in-the-dunia yang terletak paling dekat" bahkan sampai sejauh itu "mengatur seseorang state-of-pikiran, dan menentukan bagaimana seseorang" melihat '. "

Heidegger virtuoso potret manusia adalah memberatkan. Kritik ini adalah inti dari resonansi sejarah nya. Dia mengatakan modus ini berada di masyarakat adalah "jatuh". Melalui keberadaan sosial, kami makhluk-in-the-dunia dengan-lain, manusia menyerah kepada putus asa dirasionalisasi, modus destruktif instrumental adalah bahwa Heidegger memegang bertanggung jawab untuk melupakan dari Seinsfrage.

Modernitas sini harus dipahami sebagai puncak kelupaan ontologis. Kepentingan manusia dan kebutuhan, nilai-nilai dan cita-cita, telah menjadi satu-satunya ukuran segala sesuatu. Kami mengidentifikasi manusia dengan makhluk sosial kita, alam dengan penggunaan kami itu, orang lain dengan peran sosial yang mereka lakukan. Warga modern memiliki "tidak otentik" eksistensi. Kesadaran diri mereka "hanya memuaskan aturan dimanipulasi dan norma masyarakat dan kegagalan untuk memuaskan mereka." Manusia yang jatuh sosial tidak memiliki kriteria lain untuk menilai perilakunya selain yang ditentukan oleh masyarakat.

Solusi Heidegger untuk ini di Menjadi dan Waktu adalah individu otentik, makhluk yang benar untuk dirinya sendiri, yang, melalui Angst, datang untuk mengenali kedua keterbatasan sendiri, nya "menjadi-terhadap-mati", dan di samping itu yang berarti dari modern, dunia sosial dengan rutinitas yang produksi dan konsumsi, dan membebaskan diri dari kemungkinan yang "berarti apa-apa" untuk menjadi bebas untuk yang otentik. Eksistensialisme Heidegger diberitahu karya Sartre Being dan Nothingness .

Heidegger menulis Menjadi dan Waktu di negara yang hancur akibat Perang Dunia Pertama, dengan ekonomi yang dirusak oleh berderap inflasi, dan kelas penguasa bingung dengan revolusi Bolshevik. Rasa krisis telah ditangkap oleh Friedrich Nietzsche dalam hal nihilisme meningkat, dan takut kawanan umum. Tetapi pada tahun 1920 hal-hal yang akut.

Heidegger Nazisme adalah yang paling mengganggu bagian dari warisannya.
AR Saya rasa ini adalah analisis yang baik. Saya telah menunggu untuk menemukan waktu untuk membaca Menjadi dan Waktu selama beberapa dekade sekarang. Karyanya umumnya dipandang sebagai tanda istirahat akhir antara dunia Anglo-Amerika filsafat analitik, yang santo pelindung adalah Gottlob Frege dan yang membimbing cahaya untuk sebagian besar abad ke-20 itu Ludwig Wittgenstein , dan "benua" tradisi fenomenologi berasal dari Frege kontemporer Edmund Husserl. Pendidikan filsafat saya sendiri tegas dalam tradisi analitik, sebagian besar di bawah pengaruh Frege sarjana Michael Dummett.

Martin Heidegger - 1

http://www.heideggercircle.org/mh.jpg 
Dengan Leland de la Durantaye   
Kabinet 25, musim semi 2007
Disunting oleh Andy Ross
Martin Heidegger lahir di Messkirch di tepi Black Forest pada tahun 1889. Ia unggul dalam semua bidang, dari matematika untuk Yunani, teologi fisika. Dia memilih filsafat. Ketika ia menyelesaikan studinya, ia pindah ke Freiburg im Breisgau di bagian yang berbeda dari Black Forest untuk bekerja dengan Edmund Husserl, pendiri fenomenologi.

Sebagai asisten Husserl, Heidegger tumbuh terkenal. Intelektual di seluruh Jerman mulai berbicara tentang "tersembunyi filsuf-raja", penerus pangeran sebelumnya pikiran seperti Kant dan Nietzsche. Hannah Arendt perjalanan ke Black Forest dan mulai belajar dengan dia. Mereka jatuh cinta.

Meskipun kedalaman yang benar-benar luar biasa dan luasnya pengetahuan, baik itu juga belakangan Heidegger memiliki pidato atau laku budidaya Eropa yang tinggi. Dia berjalan, berbicara, dan berpakaian seperti seseorang dari Black Forest. Terlalu cerdas untuk tidak membuat kebajikan kebutuhan, Heidegger dibudidayakan gambar kuno dan pedesaan.

Pada tahun 1922, istrinya Elfriede mewarisi sejumlah sederhana, dan ia diinvestasikan dalam retret terpencil dalam mencapai yang lebih tinggi dari Black Forest. Dia memiliki sebuah pondok kecil, 6 x 7 meter persegi, dibangun ke bukit sana, komandan pemandangan indah lembah di bawah dan Alpen naik di kejauhan. Segera setelah itu, suaminya mulai, akhirnya, untuk menulis.

Heidegger tahu apa yang ia ingin menulis tentang. Tampaknya dia filosofi yang telah kehilangan sesuatu yang sangat dibutuhkan kembali. Baginya, pertanyaan terbesar bahwa filsafat mungkin bertanya adalah ini: apa yang kita maksud ketika kita berbicara tentang yang umum untuk semua mode dan bentuk makhluk individu? Dan ia melihat filsafat Barat sebagai telah sesat dalam hal itu telah berhenti untuk menanyakan pertanyaan ini.

Untuk tugas khusus nya, Heidegger segera menyadari bahwa ia membutuhkan alat khusus. Dia melihat bahwa istilah dan konsep yang digunakan oleh Permintaan metafisik tradisional kecil cocok untuk tugas itu. Dan jadi dia mundur ke Black Forest, dan berjalan-jalan di sepanjang jalan berhutan dan dalam jam yang panjang meneliti buku di gubuknya, ia dengan sabar dibuat bahasa khusus.

Tapi sementara semua orang mengatakan keanehan bahasa Heidegger, tidak semua orang menolaknya, dan tokoh-tokoh yang beragam seperti Karl Jaspers, Werner Heisenberg, Ernst Jünger, Hans-Georg Gadamer, Maurice Blanchot, Jacques Lacan, Pierre Klossowski, dan René Char ditemukan di dalamnya sebuah intensitas ekspresi tanpa membandingkan. Sementara itu sendiri, Heidegger sangat menyadari keanehan apa yang ia katakan.

Seperti sikapnya dan pakaiannya, bahasa filsafat baru Heidegger memiliki tanda-tanda tak tahu malu dari asal-usulnya. Dia mulai Menjadi dan Waktu dengan meminta maaf untuk "keparahan dan keanehan ekspresi saya", dan segera menjadi jelas bagi pembaca buku ini bahwa ini bukan ekspresi parah atau aneh metafisika klasik tapi bahasa baru.

Saya pertama kali mendengar tentang Black Forest di sekolah tinggi, setelah mendengar seorang teman ibu saya yang mengajar filsafat mengatakan bahwa Menjadi dan Waktu adalah "cerdas dan terburuk buku" yang pernah membaca. Aku segera punya tangan saya pada buku. Pada halaman pertama yang saya baca:

Didedikasikan untuk Edmund Husserl dalam persahabatan dan kekaguman.
Todtnauberg di Baden, Black Forest, 8 April 1926.

Heidegger tidak pernah selesai Menjadi dan Waktu , tetapi ini tidak melakukan apa pun untuk membatasi keberhasilannya. Dia menerbitkan angsuran pertama, dan ini sudah cukup. Dia belajar banyak pelajaran dari pertama dan belum selesai risalah ini, dan dalam karya-karya untuk mengikuti memilih skala yang lebih kecil dari kuliah dan esai.

Pada tahun 1933, Heidegger bergabung dengan partai Nazi, terbatas kontak dengan mentornya Yahudi, Husserl, serta dengan cinta Yahudi, Arendt, dan banyak siswa Yahudi. Dia diangkat rektor Universitas Freiburg pada tahun 1933 dan selama pidato pelantikannya mengumumkan bahwa, "Führer adalah dirinya dan sendirian realitas Jerman sekarang dan masa depan dan hukumnya."

Pada tahun 1934, Heidegger menolak pos mengajar paling bergengsi di Jerman, Ketua Filsafat di Universitas Berlin. Sebuah pidato radio akhir tahun itu berjudul "Mengapa Saya Tetap di Provinsi" dimulai, "Di lereng curam lembah gunung yang luas di selatan Black Forest di ketinggian 1.150 meter, ada berdiri sebuah gubuk kecil ski." Ini membangkitkan bagaimana "pada malam musim dingin yang mendalam ketika liar, berdebar badai salju mengamuk di luar dan kerudung segalanya," bahwa "ini adalah waktu yang tepat untuk filsafat. Pertanyaan-pertanyaan menjadi sederhana dan penting."

Hannah Arendt dan Heidegger bertemu secara diam-diam dan penuh semangat. Ada alasan untuk percaya bahwa cinta itu bersama dan nyata, namun Heidegger memilih untuk tetap dengan istri dan keluarganya. Ditulis langsung setelah perpisahan mereka, Menjadi dan Waktu hasil dengan menganalisis mempengaruhi kondisi bahwa pengalaman kita tentang dunia, seperti rasa takut dan kecemasan. Dia menawarkan analisis magisterial dari berbagai ini mempengaruhi, tapi satu adalah mencolok hilang: cinta.
Martin Heidegger

Heideggers bekanntestes Werk Sein und Zeit erschien 1927. Dalam der ersten Hälfte übte er starke Kritik am kartesischen Subjektivismus und arbeitete di einer mendasar-ontologischen Untersuchung eine neue Ontologie aus. Hierzu wählte er einen hermeneutischen Zugang: indem er nicht von festen Annahmen ausging und dann argumentativ Fortschritt, sondern phänomenologische Analysen anwandte, wollte er mit überkommenen Traditionen brechen. Im zweiten Teil des Buches beschäftigte er sich mit grundlegenden Strukturen des Menschseins, wie kira kira dem Phänomen des Todes, der Möglichkeit zur Individualität und dem di die Welt und Geschichte geworfenen Menschen. Hiervon wurden mati beeinflusst Existenzphilosophen mencolok.

Sein und Zeit

Thema der Untersuchung ist die Ajukan Pertanyaan nach dem Sinn von Sein, mati nach Heidegger in der Philosophie abendländischen bisher nicht wirklich gestellt worden sei. Sein sei bisher stets nach dem Muster von Seiendem (Vorhandenem) charakterisiert worden. Heidegger unternimmt den Versuch diese nach seiner Auffassung falsche Herangehensweise durch eine fundamentalontologische Untersuchung di den rechten Blick zu bekommen. Die Klärung eines ursprünglicheren Sinns von Sein bestimmt Heideggers Lebenswerk.

Menjadi dan Waktu

Meskipun ditulis dengan tergesa-gesa, dan meskipun fakta bahwa Heidegger tidak pernah menyelesaikan proyek yang disebutkan dalam pendahuluan, buku ini sangat mempengaruhi filsafat abad ke-20, khususnya eksistensialisme, hermeneutika dan dekonstruksi. Hal ini secara luas dianggap sebagai karya paling berpengaruh dari filsafat kontinental diterbitkan selama abad ke-20.

Pada halaman pertama, Heidegger menjelaskan proyek dengan cara berikut: "Tujuan kami dalam risalah berikut ini untuk bekerja di luar pertanyaan dari arti menjadi dan untuk melakukannya secara konkret." Heidegger mengklaim bahwa ontologi tradisional prasangka diabaikan pertanyaan ini, menolak sebagai terlalu umum, undefinable, atau jelas.

Heidegger mengusulkan untuk memahami menjadi sebagai dibedakan dari setiap hal tertentu yang. "'Menjadi' bukanlah sesuatu seperti makhluk." Menjadi, ia mengklaim, adalah "apa yang menentukan makhluk sebagai makhluk, bahwa dalam hal yang makhluk sudah dipahami."

Pertanyaan Heidegger meminta dalam pendahuluan adalah: apa makhluk yang akan memberikan akses ke pertanyaan tentang makna menjadi? Jawabannya Heidegger adalah bahwa hal itu hanya dapat bahwa menjadi untuk siapa pertanyaan dari keberadaan adalah penting, karena untuk siapa menjadi masalah. Makhluk untuk siapa makhluk adalah pertanyaan bukan apa, tapi yang. Heidegger menyebut ini menjadi Dasein.

Pertanyaan tentang keaslian individu Dasein tidak lepas dari "historicality" dari Dasein. Di satu sisi, Dasein, sebagai manusia, adalah "membentang di sepanjang" antara kelahiran dan kematian, dan dibuang ke dalam dunianya, yaitu, dilemparkan ke kemungkinannya, kemungkinan yang Dasein dibebankan dengan tugas asumsi. Di sisi lain, akses Dasein kepada dunia ini dan kemungkinan ini selalu melalui sejarah dan tradisi. Ini adalah pertanyaan tentang "historicality dunia," dan di antara konsekuensinya adalah argumen Heidegger bahwa potensi Dasein untuk keaslian terletak pada kemungkinan memilih "pahlawan."