KEINDONESIAAN
Posted by Usul Pujiono E on 19.29 with 8 comments
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami
adalah manusia – manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak
mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat
mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai Tanah
Air Indonesia.” Soe Hok Gie
"Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije
Indonesische staat) mustahil disebut
"Hindia-Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan
kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu
tujuan politik (een politiek doel),
karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan, dan
untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan berusaha dengan
segala tenaga dan kemampuannya." Bung Hatta
“Lahirnya
sebuah negara, dari cita-cita politik sebuah bangsa. Lahirnya karakter bangsa,
merupakan dinamika sosial dari individu-individunya. Tanah air dulu memiliki
makna sebagai simbol kekuasaan, tapi dewasa ini tanah air hanyalah tempat
tinggal. Titip salam untuk Neoliberalisme.” Kataku...
Keberadaan Bangsa Indonesia ini
kiranya cukup untuk menjadi study banding kita sebagai pemuda yang terlahir di
tanah air ini. Kita ada baik yang terlahir dari inang Melayu, dari inang
melanesia, dari inang arab, maupun dari inang-inang lain. Memiliki hak
mencintai negara ini, memiliki hak menyampaikan patriotisme dengan prinsip
kita, serta memiliki hak menikmati hidup yang layak di tanah air ini.
Semangat kebangsaan
ditiap-tiap masa peradaban manusia memiliki hakikat yang berbeda-beda. Diawal
peradaban manusia, mereka memaknai bangsa sebagai satu kesatuan suku yang
memiliki paras dan budaya yang sama. Dalam perkembangannya peradaban sosial
manusia mulai mengenal sistem politik kerajaan; kekaisaran; politik dinasti,
dimana ditiap-tiap bangsa memiliki simbol-simbol kenegaraan dan simbol-simbol
kebangsaan yang terwujud dalam kasta bangsawan. Mungkin di tanah air yang kita
diami ini pernah ada suatu bangsa atau negara seperti contohnya Majapahit,
Singosari, mataram dimana budaya jawa sebagai simbol superiornya, atau mungkin
kerajaan sriwijaya dengan budaya melayu kunonya sebagai simbol superiornya.
Salah satu tokoh kuno yang populer, Gajah
Mada. Beliau pernah mencatatkan namanya dalam sejarah besar dunia dengan Sumpah Palapa, yang substansinya beliau
bersumpah untuk mengekspansi kekuasaan bangsa dan negaranya seluas-luasnya,
maka ketika itulah Wawasan Nusantara
mulai ada. Disatu sisi Wawasan Nusantara dianggap sebagai wujud cita-cita luhur
bangsa, disisi lain Wawasan Nusantara hanyalah alat propaganda sebuah etnis
superior yang haus kekuasaan.
Dalam berkembangnya waktu bentuk
karya sosial manusia dalam hal kebangsaannya mulai berkembang dengan adanya
sistem Ekspansi, Kolonialisme serta Penjajahan. Sistem vandalisme dan
perbudakan suatu bangsa untuk bangsa lain, melahirkan bangsa Tuan dan bangsa
Budak. Seperti lahirnya kekaisaran Romawi, dalam perkembangannya Agama mulai
dipakai sebagai alat politik, khususnya di Romawi. Timur tengah melahirkan
kekhalifahan, dari dampak Perang Salib
yang berkepanjangan sehingga menunjukkan dominasi kekhalifahan Turki Usmani dan
menyebabkan bangsa-bangsa eropa melakukan ekspansi ke seluruh penjuru dunia. lalu
ada istilah Gold Gospel Glory oleh
spanyol dalam mengekspansi dunia, yang bersama-sama dengan portugis untuk
bersaing menguasai dunia. Gold, Gospel, Glory memiliki makna Cita-Cita Ekonomi, Pesan Agama Dan Kejayaan
Bangsa. Tanah air ini sebagai saksi adanya negara Hindia Belanda kuno ada,
sebagai bentuk praktek kenegaraan era ini.
Dalam perkembangannya sistem
kolonialisme ini berubah dengan adanya reformasi-reformasi perdagangan,
disinilah awal mula kaum-kaum Borjuis
yang mempropagandakan Kapitalisme.
Mungkin berawal dari Revolusi Perancis
ataupun Revolusi Industri di
Inggris. Negara hanyalah sebagai alat perorangan yang superior, dimana
perusahaan sebagai simbol powernya. Wajar saja nenek moyang kita menyebut
kaum-kaum itu sebagai kaum kompeni, yang diserap dari bahasa Inggris “Company” yang berarti Perusahaan. Sejarah
mencatat adanya sikap adi daya dari VOC
pada era kolonialisme hindia belanda, sebagai contohnya.
Kajian kita secara sejarah
peradaban manusia tak cukup disini. Masih ada beberapa catatan penting dalam
dinamika sosial politik peradaban manusia. Salah satunya adalah lahirnya liberalisme
yang diusung oleh kaum revolusioner inggris yang mengantarkan lahirnya negara
Amerika Serikat, dengan propaganda Freedom
Of Justice nya dan semangat kaum yang ditindas oleh kelompok atau kaum
bangsawan, kaum agamawan ataupun tuan tanah. Inilah awal kesempurnaan dari
ideologi kapitalisme baru yang kita sebut dengan neo liberalisme. Konsep PBB dan HAM dari sini.
Sistem tandingan
Kapitalisme, yaitu Sosialisme. Filosofi
sosialisme dipopulerkan olah Karl Marx,
yang salah satu karya ilmiah sosial beliau yaitu yang terangkum dalam buku das
capital, sebagai bukti sistem ini lawan dari kapitalisme. Awal kejayaan
ideologi ini adalah dengan lahirnya Revolusi
Uni Soviet oleh kaum Bolshevik, di
China ada gerakan Mao Zedong. Secara
langsung mempengaruhi peradaban nusantara kita, seperti dengan lahirnya Indische Sociaal Democratische Vereeniging-, ISDV yang dalam perkembangannya berubah
menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia).
Cita-cita ISDV adalah menjatuhkan dominasi Kapitalisme dan kolonialisme
Belanda.
Pada awal
abad ke 20, propaganda Nasionalisme ada dimana-mana, di tanah air ini sendiri
terjadi semangat Sumpah Pemuda,
dibelahan bumi yang lain terciptanya perang
dunia pertama, perang dunia kedua,
ambisiusme fasisme jerman dan jepang, dan perjuangan kemerdekaan dari
kolonialisme dimana-mana. Lalu mengantarkan terusirnya kolonialisme Belanda
oleh Jepang, disusul jatuhnya jepang dalam perang dunia kedua yang disebabkan
dijatuhkannya Bom atom di kota Nagasaki
dan Hiroshima oleh Amerika Serikat.
17 Agustus 1945, Proklamasi
kemerdekaan Bangsa Indonesia, maka lahirlah negara Indonesia dengan bangsanya. Pada
dasawarsa 1920-an,
nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan
geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia,
sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu
identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya,
pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan
Logan itu.
Banyak versi tentang asal usul nama
Indonesia, ada kiblat versi Hindu-Nesia,
ada versi kiblat Indo-Nesia. Pada
tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri
Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah
mereka, Hindia Poetra,
berganti nama menjadi Indonesia
Merdeka.
Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu
juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai
Komunis Indonesia (PKI).
Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan National Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula
menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia"
dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa pada Kerapatan
Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini
dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.
Dari sini
sebenarnya kita sudah bisa menggambarkan kira-kira karakter bangsa kita ini
seperti apa. Walaupun dalam kajian lebih lanjut terkait sejarah dinamika sosial
politik bangsa ini dan manusia di dunia pada umumnya. Seperti adanya
Pemberontakan G30S/PKI, disusul
dengan adanya Supersemar yang akan
menjatuhkan kekuasaan Soekarno. Lalu melahirkan Orde Baru Soeharto dan lahirnya momentum Reformasi 98 yang menjatuhkan orde baru. Disisi lain jatuhnya
Komunisme Uni sovyet pada perang dingin yang berkepanjangan dengan poros
Amerika Serikat.
Reformasi
yang harapannya sebagai Representatif
Demokrasi, cita-cita demokrasi untuk keadilan sosial justru malah gagal,
Dengan adanya Demokrasi Berbasis Partai,
karena hanya menyentuh aspek metode yang demokratis saja, belum menyentuh aspek
prinsip dan cita-cita Demokrasi. kemunduran
dan bahkan keterbelakangan refleksi atau pembalikan ini sebetulnya kegagalan
yang tidak khas Indonesia karena krisis demokrasi ini juga berlangsung
ditingkat global. Indonesia terbiasa melakukan Demokrasi Representatif ini
sebenarnya sebuah kegagalan, bahwa Indonesia melakukan praktek demokrasi yang Representatif Elitis itu hanyalah
sebuah gejala-gejala kegagalan saja. selama tahun 99-2006 sebenarnya yang
terjadi hanya liberalisasi politik. Kemudian terjadi elitokratif dimana
pembajakan demokrasi muncul. Dan kita melihat gejala Rekonsolidasi untuk Kapitalisme. Kaum konserfatif liberal sering
membayangkan setelah reformasi akan ada konsolidasi demokrasi dan sesungguhnya
yang terjadi adalah konsolidasi politik berbasis partai, konsolidasi yang
diharapkan untuk cita-cita Demokrasi ternyata gagal. Memang ada regeneralisasi,
manfaat lahirnya partai-partai. Tapi sebenarnya yang terjadi kebangkitan partai politik – partai politik kolonial,
makanya banyak predator-predator lokal yang bersama dengan birokrasi lokal
hingga nasional itu berlangsung. fenomena ini bahwa sebenarnya
kegiatan-kegiatan partai-partai itu bermain menguasai panggung, partai-parti
itu hanyalah dan tidak bukan sebuah organisasi-organisasi yang haus kekuasaan
yang berlangsung paska orde baru. Dan bahayanya ini sebagai basis demokrasi.
Sistem politik di Indonesia sebenarnya adalah sistem yang dikendalikan oleh
suatu organisme dan itu sendiri dilakukan pemodal, khususnya pemodal-pemodal
asing dan ini membuka cakrawala kita. Simbol Kenegaraan yang dulunya menjaga
NKRI, sekarang sebenarnya menjaga kekuatan-kekuatan politik. Semua ini
memperlihatkan bahwa, kegagalan cita-cita Demokrasi justru mempersubur perilaku
politik predatorial. Jadi gabungan dari Predator
Politik, Predator Birokratif, Predator Korporatif. Salah satu dampaknya
adalah banyaknya gerakan-gerakan Separatis
di NKRI kita ini, sebagai wujud kekecewaan.
"New World Order,
Freedom of Justice, Pluralism"
Oleh : Usul Pujiono E
Siiiiiiiiiiiiiipppppppp
BalasHapusIndonesia
BalasHapusini baru namanya WAWASAN NUSANTARA
BalasHapusiyaa om..
BalasHapusIndonesia Raya
BalasHapusjayalah bangsaku
BalasHapusmakasih kawan2ku
BalasHapussahur............. sahur.................
BalasHapus