Sabtu, 06 Juni 2015

Prolog Tentang Falsafah Jawa

http://scontent.cdninstagram.com/hphotos-xaf1/t51.2885-15/e15/11018517_1613253775577702_1066901960_n.jpgFalsafah Jawa adalah ajaran hidup yang umum dipakai atau berlaku di masyarakat Jawa, Indonesia.[1][2]
Falsafah hidup Jawa menekankan keharmonisan, keselarasan pada setiap dimensi kehidupan, salah satunya dengan alam. Dalam buku Etika Jawa, Frans Magnis Suseno menjelaskan bahwa orang Jawa tidak mengenal baik dan jahat, melainkan orang yang bertindak karena ketidaktahuan.[1]

Falsafah Hidup Jawa terbagi menjadi 3 macam warna Falsafah.
1. Falsafah Hidup Majapahit, terlihat pada nilai-nilai moral dan kehidupan yang diterapkan oleh Jawa Ketimuran. nilai-nilai ini terlihat pada sistem politik yang dipakai oleh kerajaan Majapahit atau Singosari. dengan sikap yang lebih terbuka, ekspansionaris dll. Falsafah ini berawal dari pengaruh teologi Hindu, etos ekspansionaris (Ken Arok, Gajah Mada), etos keterbukaan dan kenaturalan sikap (Pemberontakan-pemberontakan dan praktek perebutan kekuasaan oleh Ken Arok) dan hingga kini masih mempengaruhi etika keseharian masyarakat. Saat Majapahit memasuki era kemaharajaan Thalasokrasi saat pemerintahan Gajah Mada, beberapa negara bagian di luar negeri juga termasuk dalam lingkaran pengaruh Majapahit, sebagai hasilnya, konsep teritorial yang lebih besar pun terbentuk:
Negara Agung, atau Negara Utama, inti kerajaan. 
Mancanegara, area yang melingkupi Negara Agung. Area ini secara langsung dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa, dan wajib membayar upeti tahunan. Akan tetapi, area-area tersebut biasanya memiliki penguasa atau raja pribumi, yang kemungkinan membentuk persekutuan atau menikah dengan keluarga kerajaan Majapahit. Wilayah Mancanegara termasuk di dalamnya seluruh daerah Pulau Jawa lainnya, Madura, Bali, dan juga Dharmasraya, Pagaruyung, Lampung dan Palembang di Sumatra. 
Nusantara, adalah area yang tidak mencerminkan kebudayaan Jawa, tetapi termasuk ke dalam koloni dan mereka harus membayar upeti tahunan. Mereka menikmati otonomi yang cukup luas dan kebebasan internal. Termasuk dalam area ini adalah kerajaan kecil dan koloni di Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Ketiga kategori itu masuk ke dalam lingkaran pengaruh Kerajaan Majapahit. Akan tetapi Majapahit juga mengenal lingkup keempat yang didefinisikan sebagai hubungan diplomatik luar negeri:
Mitreka Satata, yang secara harafiah berarti "mitra dengan tatanan (aturan) yang sama". Hal itu menunjukkan negara independen luar negeri yang dianggap setara oleh Majapahit, bukan sebagai bawahan dalam kekuatan Majapahit.
2. Falsafah Hidup Mataram, terlihat pada nilai-nilai moral dan kehidupan yang diterapkan oleh Jawa mataraman (Jogja, Solo). Nilai-nilai ini terlihat pada sistem politik yang dipake oleh kerajaan mataram (Kesultanan Hamengkubowono, Kesunanan Pakubuwono). dengan sikap yang lebih tertutup, adap asor, halus dll. Falsafah ini berawal dari pengaruh teologi Budha. Etika Mataram menekankan sikap hormat terhadap apa saja karena segala yang ada di dunia adalah percikan zat ilahi.[3] Sikap hormat semacam ini melampaui sikap hormat yang didasarkan pada hirarki jabatan dalam institusi-insitusi.[3] Oleh karena itu, penghormatan kepada seorang raja pun sesungguhnya didasarkan pada keyakinan bahwa seorang raja merupakan wakil Tuhan untuk melangsungkan tatanan dunia sesuai kehendak ilahi, dan apabila seorang raja gagal melaksanakan mandat menyejahterakan rakyat karena lebih senang memenuhi nafsu-nafsu pribadi, maka ia akan kehilangan legitimasi kekuasaan dari rakyat.[3] 
3. Falsafah Hidup (Indonesia yang di Jawakan), Ini sangat terlihat pada nuansa sosial politik dan simbol-simbol kenegaraan saat ini. Dari 2 falsafah hidup diatas kiranya meruncing atau terkristral menjadi falsafah hidup yang kita pakai saat ini, yaitu falsafah Pancasila. Dengan masuknya kebudayaan India ke Jawa melalui penyebaran agama Hindu dan Buddha, maka ajaran Pancasyila pun masuk kedalam kepustakaan Jawa, terutama pada masa Kerajaan Majapahit dibawah kekuasaan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Pada masa itu istilah Pancasila dapat ditemukan dalam buku Negarakertagama karya Empu Prapanca dan buku Sutasoma karya Empu Tantular. Dalam buku Negarakertagama terdapat ketentuan bagi para raja yang berbunyi “Yatnaggegwani Pancasyiila kertasangkarbhisekaka krama” yang artinya “Raja menjalankan dengan setia kelima pantangan begitu pula upacara-upacara ibadat dan penobatan”.
Nilai-nilai Pancasila secara intrinsik bersifat filosofis, dan di dalam kehidupan masyarakat indonesia nilai Pancasila secara praktis merupakan filsafat hidup (pandangan hidup). nilai dan fungsi filsafat pancasila telah ada jauh sebelum indonesia merdeka. hal ini dibuktikan dengan sejarah majapahit (1293). Pada waktu itu Hindu dan Budha hidup berdampingan dengan damai dalam satu kerajaan. 
Empu tantular yang mengarang buku “sutasoma” yang di dalamnya memuat seloka yang berbunyi : “Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma Mangrua”, artinya walaupun berbeda namun satu jua adanya, sebab ada tidak agama yang memiliki Tuhan yang berbeda. Hal ini menunjukkan adanya realitas kehidupan agama pada saat itu, yaitu agama Hindu dan Budha. Bahkan salah satu kerajaan yang menjadi kekuasaannya yaitu pasai jutru telah memeluk agama islam.
Dalam kehidupan bangsa indonesia diakui bahwa nilai Pancasila adalah pandangan hidup (filsafat hidup) yang berkembang dalam sosio-budaya Indonesia. Nilai Pancasila dianggap sebagai nilai dasar dan puncak (sari-sari) budaya bangsa, karenanya nilai ini diyakini sebagai jiwa dan kepribadian bangsa.

Falsafah hidup Jawa tertuang dalam berbagai bentuk karya peninggalan orang Jawa seperti epos Mahabarata, Ramayana, atau karya-karya mitologis lainnya.[4] Selain itu bebeapa bentuk karya lain yang merupakan sumber ajaran etika Jawa berupa tembang, cerita rakyat, peribahasa, slogan-slogan tertentu hingga petuah-petuah sederhana yang sering diucapkan masyarakat dalam hidup sehari-hari.[3][1] Selain itu, sumber etika yang lazim didapati dalam hidup keseharian dapat digali dari ritus-ritus slametan yang sarat dengan simbol-simbol penuh makna sebagai panduan hidup.[5]

Terdapat dua tradisi mitologi wayang terbesar yang hidup dalam masyarakat Jawa, yaitu epos Mahabarata dan Ramayana.[4] I Gede Samba, seorang penafsir cerita Mahabarata dan Ramayana mengatakan bahwa kedua epos tersebut harus dilihat sebagai mitologis, bukan kisah sejarah.[4] Narasi-narasi kisah, karakter setiap tokoh dalam epos Mahabarata dan Ramayana, termasuk perang-perang yang ada dalamnya harus dilihat sebagai kisah yang terjadi dalam setiap manusia, dalam diri manusia, bukan kisah antar-individu.[4] Setiap peristiwa, perang misalnya, adalah perang yang pertama-tama terjadi dalam diri seseorang, bukan perang antar-manusia.[4] Perang antara Kurawa dan Pandawa misalnya, adalah perang antara sifat buruk dan sifat baik yang ada dalam diri seseorang, sehingga perang yang paling pantas dilakukan adalah perang terhadap watak buruk dalam diri sendiri, bukan memerangi pihak (orang) lain yang perlu dimusnahkan.[4] Etika Jawa menghindari peperangan antar-pribadi, antar-kelompok, karena manusia harus hidup dalam harmoni.[4] Jika keharmonisan mulai hilang dari masyarakat, maka pertama-tama manusia harus menilik ke dalam diri tentang apa yang salah dalam dirinya.[4]

Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan : Sangkan Paraning Dumadhi (lit. "Dari mana datang dan kembalinya hamba tuhan") dan membentuk insan se-iya se-kata dengan tuhannya : Manunggaling Kawula lan Gusthi (lit. "Bersatunya Hamba dan Tuhan"). Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut:

  1. Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi)
  2. Mamayu Hayuning Kaluwarga (sebagai rahmat bagi keluarga)
  3. Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia)
  4. Mamayu Hayuning Bhuwana (sebagai rahmat bagi alam semesta)
Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Kejawen hakikatnya adalah suatu filsafat dimana keberadaanya ada sejak orang Jawa (Bahasa Jawa: Wong Jawa, Krama: Tiyang Jawi) itu ada. Berbeda dengan kaum abangan kaum kejawen relatif taat dengan agamanya, dengan menjauhi larangan agamanya dan melaksanakan perintah agamanya namun tetap menjaga jatidirinya sebagai orang pribumi, karena ajaran filsafat kejawen memang mendorong untuk taat terhadap tuhannya. jadi tidak mengherankan jika ada banyak aliran filsafat kejawen menurut agamanya yang dianut seperti : Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Kristen Kejawen, Budha Kejawen, Kejawen Kapitayan (Kepercayaan) dengan tetap melaksanakan adat dan budayanya yang tidak bertentangan dengan agamanya. 

Referensi
  1. ^ a b c d e f (Indonesia)Frans Magnis Suseno., Etika Jawa: Sebuah analisa falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa, Jakarta: Penerbit PT Gramedia, 1984
  2. ^ a b c (Indonesia)Wiwien Widyawati, Etika Jawa: Menggali Kebijaksanaan dan Keutamaan demi Ketentraman Hidup Lahir Batin, Yogyakarta: Shaida, 2012
  3. ^ a b c d e f g h i j k l (Indonesia)Frans Magnis Suseno dan S. Reksosusilo., Etika Jawa dalam Tantangan. Yogyakarta: Kanisius, 1983.
  4. ^ a b c d e f g h (Indonesia)I Gede Samba., Merajut Budaya Bangsa: Tinjauan Filsafati cerita Mahabharata dan Ramayana. Bandung: Yayasan Dajan Rurung Indonesia, 2013
  5. ^ a b c d e f g (Indonesia) Ignas G. Saksono dan Djoko Dwiyanto., Terbelahnya Kepribadian Orang Jawa, Yogyakarta: Keluarga Besar Marhaenis DIY, 2011
 

Jumat, 05 Juni 2015

Sabda Siti Djenar 001

https://alfiananda.files.wordpress.com/2010/02/syekh1.jpgSiti Djenar keluar dari kelas filsafatnya yang beku setelah sekian lama berdiam diri lalu berseru lantang di tengah-tengah kerumunan mahasiswa disebuah kampus bak seorang nabi :

"Dan apa yang kalian sebut sebagai dunia, yang telah ber abad-abad telah dibangun oleh nenek moyang kalian serta kalian, seharusnya tanpa ada rasa takut untuk mengakuinya dengan segala cinta nenek moyang kalian dan cinta kalian, bukankah sudah kalian sadari? kalian dengan angkuh menciptakannya, namun kemunafikan kalian dan ketidak beranian kalian akhirnya menyembunyikan bukti-bukti, yang membuatnya makin rapuh. Sikap itu adalah warisan nenek moyang kalian yang terburuk, namun kalian mensucikannya. Kita harus berani jujur, dengan segala bentuk kita, nalar kita, kehendak kita diperuntukkan keabadian dunia!"

Kamis, 04 Juni 2015

Søren Kierkegaard, Journals (20 November 1847)

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/89/Kierkegaard.jpgApa yang dibutuhkan zaman ini bukanlah seorang jenius — orang jenius sudah cukup banyak —, melainkan seorang martir, yang untuk mengajar manusia agar taat hingga mati, ia sendiri akan taat hingga mati. Apa yang dibutuhkan zaman ini adalah kebangkitan. Dan karena itu suatu hari kelak, bukan hanya tulisan-tulisan saya, tetapi juga seluruh hidup saya, seluruh misteri yang membangkitkan tanda tanya tentang mesin ini akan dipelajari dan dipelajari terus. Saya tidak akan pernah melupakan bagaimana Tuhan menolong saya dan karena itu adalah harapan saya terakhir bahwa segala sesuatunya adalah untuk kemuliaan-Nya.