Sartre
Posted by Usul Pujiono E on 03.39 with 4 comments

Landasan
Filsafat Sartre : Ada dan Ketiadaan
1.
L
etre-en-soi
Dari
buku yang ditulis Sartre Being and
Nothingness, kita dapat melihat landasan ontologis Sartre dalam membangun
filsafat yang menggunkan metode fenomenologi. Dengan dasar-dasar yang sama,
tetapi Sartre mendapatkan kesimpulan yang cukup berbeda dari Husserl maupun
Heidegger sebagai guru fenomenologinya.
Sebagai landasan
ontologisnya, Sartre pertama menyuguhkan konsep L etre-en-soi, apa itu L
etre-en-soi ? secara arti, L
etre-en-soi berarti being-in-itself atau
berada dalam dirinya sendiri.Untuk mengetahuinya, sebaiknya kita bedah term itu
satu persatu. Pertama etre, Driyarkara
menjelaskan apa yang dimaksud etre :
‘’Sekarang kita mendekati pikiran Sartre ikutilah paparan berikut, kita mengerti pohon, kita mengerti hewan, kita mengerti manusia dan sebagainya. Semuanya itu berbeda-beda…Jadi kita menyebut dengan nama-nama atau kata-kata yang berbeda karena apa yang disebut juga berbeda-beda…namun, di antara istilah-istilah yang kita gunakan itu ada yang umum, artinya kita gunkaan untuk menyebut barang-barang yang betul-betul berlainan, misalnya kata barang…di samping itu ada kata lain yang umum pula ialah « ada ». Apa saja yang kita jumpai dapat kita sebut ada atau sesuatu yang berada. Nah, ada atau sesuatu yang berada, itu dalam bahasa Sartre disebut Etre.’’ (Driyarkara, 2006a :1304)
L etre-en-soi menunjuk suatu cara bereksistensi yang tertutup, apa yang ada sepenuhnya
identik dengan dirinya sendiri. Ia bersifat tertutup rapat, tanpa lobang, tanpa
celah, dan tanpa gerak sedikitpun untuk keluar dari dirinya. di situ tidak
terdapat-subjek-objek, sama sekali tidak mempunyai relasi. Oleh Sartre L etre-en-soi disebut ‘ada yang tidak
berkesadaran’. Boleh dikatakan ada jenis ini adalah adanya benda-benda, yang
berada begitu saja (Siswanto, 1998 : 140).
Lebih jelasnya tentang etre-en-soi itu harus dikatakan : it is what it is. Etre-en-soi tidak aktif, tidak pasif, tidak afirmatif, tidak
negatif : kategori-kategori macam itu itu hanya mempunyai arti dalam kaitan
dengan manusia. Etre-en-soi tidak mempunyai masa silam, masa depan; tidak mempunyai kemungkinan
ataupun tujuan. Etre-en-soi itu sama
sekali kontingen. Artinya : ada begitu saja, tanpa fundamen, tanpa
diciptakan, tanpa dapat dimainkan dari sesuatu yang lain (Bertens, 2001 :
92). Menurut Sartre, segala yang berada secara ini, segala yang L etre-en-soi, adalah memuakkan.
Mengapa ? Meja, kursi, pohon, dan sebagainya, dalam dirinya bukanlah
apa-apa. Benda-benda itu bila kita lihat sebagai de-facto demikian, seperti adanya tanpa alasan apa pun, lepas dari
segala arti yang kita berikan kepadanya dalam hidup sehari-hari akan tampak
memuakkan (Hadiwijono, 2011 : 159).
2. L
etre-pour-soi
L
etre-pour-soi atau ‘ada untuk
diri’ menunjuk cara beradanya manusia yaitu pada kesadaran manusia ;
sifatnya melebar (co extensive) dengan dunia kesadaran dan sifat kesadaran yang
berada di luar diri sesuatu atau seseorang. Dalam kesadaran barulah muncul
adanya subjek dan objek. Ada yang sadar menjadi subjek, tetapi dia juga bisa
menjadi objek. Jadi seolah-olah di situ ada
keduaanya ; subjek berhadapan dengan objek. Yang berupa subjek adalah
‘pengada yang sadar’. Yang berupa objek ialah dia sendiri, sekedar disadari.
Tetapi kesadaran itu tidak identik dengan dirinya karena ia hanya berdiri
sebagai ‘subjek yang lain’ dan tak terpisahkan dengan dirinya sendiri. Antara
subjek yang menyadari dan objek yang disadari selalu terdapat jarak, jarak
antara aku dan diriku, inilah yang disebut ‘ketiadaan’ (Siswanto, 1998: 141).
Konsep
yang sulit ini dapat dipermudah dengan contoh. Sekarang marilah kita menganggap
ada seorang manusia. Berbeda dengan benda-benda lain yang tidak sadar akan
keberadaannya. Manusia itu ada, ada berarti dia sadar dengan keberadaanya.
Sedangkan manusia yang sadar dengan keberadaannya berarti dia mengetahui
sesuatu. mengetahui sesuatu inlah yang disebut Sartre asebagai proses
meniadakan sesuatu. Atau dari ‘Ada’ menuju ‘Ketiadaan’. Bagaimana bisa?
Perhatikanlah
sekarang, jika manusia sedang dan dalam berbuat, sadar tentang diri sendiri,
itu berarti bahwa manusia dengan sadar sedang ada dalam peralihan. Dia sedang
mengalih, dia sedang berpindah, dia dalam perjalanan. Sekali lagi dia dengan
sadar menjalankan peralihannya itu. Dia
beralih, dia mengalih, itu karena sadar tentang diri sendiri. Dia menyadari
diri sebagai ini, akan tetapi justru bersama-sama membantah dengan mengalih
itu. Jadi, dia berkata ini dan juga membantah, saya tidak mau dan karenanya dia
mengalih. Misalnya, seorang mengakui saya ini pencuri. Sedang sadar dan justru
karena kesadarannya itu dia membenci sifat pencuri, jadi tidak mau
kepencuriannya itu.
Sebetulnya, peniadaan itu terjadi terus menerus, terjadi
tak ada berhenti-hentinya, sebab manusia itu tidak pernah berhenti. Dia terus
saja berbuat. Setiap perbuatan itu berupa perpindahan. Perpindahan perubahan,
karena manusia tidak bisa menghendaki ketetapan dan itu justru karena
kesadaranya. Pandanglah sekarang demikian : manusia itu
dlaam tiap-tiap perbuatan berubah, mengalih, jadi bergerak ke-. Karena dia
sedang berubah, karena dia sedang mengalih ke-, karena dia sedang bergerak ke-,
jadi dia belum seperti yang dimaukan. Dia dalam keadaan yang tidak dikehendaki
dan keadaan seperti yang dikehendaki belum ada. Jadi dia belum ada. Jadi, yang
dikehendaki belum ada dan yang tidak ada tidak dikehendaki. Itulah manusia
dalam tiap detik. Jadi dia selalu meniadakan (Driyarkara, 2006a: 1309). Itulah
yang dimaksud Ada selalu menuju ketiadaan.
Categories: Eksistensialisme, Sartre
Mari Belajar
BalasHapusKajian yang menarik untuk disimak
BalasHapusSUKA
BalasHapusokeee
BalasHapus